29 November, 2010

Traveling Macau : Sebuah Kota Dengan Panjang Hanya 2,5x Landasan Udara.

Rangkaian perjalanan ke Cina, merupakan rangkaian tersulit dari perjalanan yang gua lakukan kemarin. Berbagai kendala gua alami, dimulai saat gua membuat itinerary, hingga saat gua berhubungan dengan warga lokalnya.

Banyak sekali "email persetujuan tinggal" (Couchrequest) yang dikirim, tetapi sangat sulit mendapat jawaban "iya" dari mereka (warga lokal). Kebanyakan yang membalas email gua adalah expat-expat yang kebetulan sedang bekerja di sana.

Berbagai alasan penolakan dari warga lokal. Mereka kemukakan pada saat membalas Couchrequest gua :
  • Mereka masih tinggal bersama keluarga.
  • Mereka takut mempersilahkan orang asing tinggal di tempatnya.
  • Mereka cuma menerima tamu, kaukasian !!.
Alasan pertama dan kedua cukup masuk akal bagi gua, tapi "tidak" untuk alasan ketiga!.

"Ironis, ternyata budaya memperbudak diri terhadap ras pantat putih tidak hanya terjadi di Indonesia saja..".

--

Bagi gua, Couchsurfing adalah suatu wadah di mana kita dapat bertukar pendapat serta bersilaturahi antar sesama travelers.

Akan tetapi, "tujuan" tersebut tidaklah selalu sama antara satu anggota dengan anggota lainnya. Motif tak "berprike-tamu-manusiaan" pernah gua alami saat gua menerima balasan Couchrequest dari seseorang di Hongkong :

--------
Balasan Couchrequest 

.. I'm aware that for most of the people staying in Hongkong is really expensive, especially for those who come from poor country like you.


Well, people say that this site is built for culture exchange purpose. But the true reason why people use this site is because they want to get free stay.


That's why i want you to make a list of what you obliged to do while staying at my place


- You must wake up in the morning
- You must wash my clothes and underwear
- You must clean the house
You must make me breakfast, and dinner


As reward you will get free stay at my place in the living room. You aren't allowed to sleep on my couch. You have to bring your own sleeping bag, otherwise you will sleep on the plain floor. I don't provide everything as my place is not a hotel!.

You must bring different types of souvenir also..

--------

9 Oktober 2010 (Kualalumpur - Macau)

Pesawat yang gua tumpangi waktu itu mempunyai konfigurasi bangku penumpang "tiga-tiga". Artinya, di sebelah kiri terdapat tiga deretan bangku, begitu juga di sebelah kanannya.

Bangku yang gua dapat adalah bangku di bagian tengah sebelah kanan pesawat. Penumpang yang duduk di samping kiri dan kanan gua adalah kakek-kakek dan seorang perempuan modis.


--

Setting-an bangku yang sempit. Mempersulit pergerakan gua yang duduk di tengah untuk ke toilet.

Mau ga mau, gua harus meminta izin penumpang di samping buat minggir sebentar supaya gua bisa lewat. Tapi dalam prakteknya, hal tersebut sangat sulit dilakukan..

"SI NGKOH NGGAK MAU MINGGIR!."

Dia ngamuk pake bahasa.Cina!. Kayaknya dia bilang,

"KUALAT KAMU NGELANGKAHIN ORANG TUA!!".

-- 

Menghadapi situasi penerbangan yang membosankan sejak awal. Membuat gua memutuskan untuk tidur sepanjang perjalanan.

Untuk mendapat posisi tidur yang nyaman. Gua menurunkan posisi duduk ke belakang. Ga lama kemudian..

"WOI! DUDUK GUA JADI SEMPIT!!".

Giliran orang di belakang ngamuk pake bahasa.Cina!

AAARRRGGGhhhhhhh!!!

------

Sesudah pesawat mendarat di Bandara Macau. Gua segera menyelesaikan urusan imigrasi secepatnya.

Setelah semua selesai. Hal yang gua lakukan berikutnya adalah mencari Pusat Informasi untuk meminta peta kota dan transportasi.

Pencarian alamat host gua kali ini terbilang sulit. Orang yang akan meng-host gua hanya memberitahu alamat di mana dia tinggal, tanpa memberitahu caranya ke sana.

"My address is on... in District RX".

Dengan perlengkapan berupa peta dan kertas berisi alamat di tangan. Gua pun menaiki bis dan siap tersasar lagi malam itu..

--

Ada dua cara membayar bis di sini : Pertama membayar dengan uang pas, Kedua menggunakan Macau Pass.

Kartu Macau Pass

Macau pass adalah sebuah kartu contactless mirip Flazz BCA yang bisa digunakan : Membayar bis, belanja di Minimarket, dan makan di restoran. Salah satu keuntungan menggunakan kartu ini untuk membayar bis adalah kita langsung mendapat potongan 50% dari ongkos normal ke semua rute bis di Macau.

Mesin reader (hijau), kotak uang (merah)
Tidak ada perbedaan harga untuk rute jauh - dekat. Berapa ongkos yang harus dibayar, tertera jelas saat kita memasuki bus. Kita tinggal memasukkan sejumlah koin ke dalam kotak uang, atau men-tap Macau pass di mesin reader.

Disarankan membayar bis menggunakan uang pas. Kita ga bakal dapat kembalian, semisal bayar lebih!.

--

Sepanjang perjalanan bus dari Bandara di Taipa menuju Macau, gua melihat pemandangan malam kota yang menakjubkan!.

Macau telah menempatkan "dosa" di seluruh aspek ekonominya sejak dulu kala. Diawali dengan kota yang dulu terkenal sebagai kota tempat penyelundupan emas, hingga perdagangan anak, kota ini sekarang telah bertransformasi pesat menjadi pusat perjudian terbesar di dunia.

Berbagai permainan lampu memukau dihasilkan berbagai kasino-kasino yang tersebar di seluruh penjuru kota. Membuat gua tersihir untuk segera masuk ke dalam, lalu mengalokasikan seluruh dana traveling gua untuk berjudi. Sangat jelas terlihat, bahwa kota ini menggantungkan hidupnya dari berbagai bisnis haram yang berdiri di atasnya.


 

Pemandangan malam kota Macau

Gua sempat membaca sebuah berita mencengangkan di sebuah artikel koran Macau saat berada di sana. Pada awal Oktober 2010, kota ini berhasil mencatat pemasukan terbesar sepanjang sejarah kasinonya dengan meraup pemasukan sebesar USD 100juta dalam satu hari!. Berkat kasino itu pula, kota ini menghasilkan pemasukan, USD 31miliar pertahunnya!.

Dengan populasi penduduk sebesar 500.000 jiwa dan perhitungan sederhana. Kita sudah bisa mengira-ngira, "Berapa ya kira-kira pendapatan perkapitanya??".

Tak heran, jika Singapura pun mengendus prospek bisnis menggiurkan ini dengan didirikan sebuah kompleks judi bernama Marina Bay Sands baru-baru ini.

--

Terdapat dua buah bus yang harus gua ambil untuk mencapai distrik yang gua tuju :

"Bis pertama adalah bis dari Bandara menuju Pelabuhan. Sedangkan bis kedua adalah bis dari Pelabuhan menuju Distrik RX".

Merasa sudah sampai di "pelabuhan". Gua pun mempersiapkan diri untuk turun. Untuk memastikannya, gua lalu bertanya kepada salah satu penumpang dalam bis.

"Maaf, apakah ini pelabuhan?". Sesaat setelah bertanya, gua tiba-tiba melihat ekspresi pria itu berubah. Dia seakan berusaha keras mengucapkan sesuatu dari mulutnya.

"Bukan..bukan (No..No)", jawabnya sambil menjauh.

Mendengar jawaban tersebut, gua yang bersiap turun pun kembali duduk, lalu melanjutkan perjalanan sampai tersasar jauh hingga..

PERBATASAN NEGARA?!!

--

Sadar telah tersasar. Gua lalu duduk lemas di sebuah bangku panjang di halte perbatasan negara (border) sembari menunggu bis kembali menuju pelabuhan.

Pada saat itu lah, perasaan khawatir tiba-tiba saja muncul. Border Macau - Guangdong province ditutup pukul 12 malam. Itu artinya, gua cuma punya waktu sejam untuk menunggu bus, sebelum border ditutup dan bis terakhir berhenti beroperasi.

Jika sebelum itu gua belum juga mendapat bis. Itu artinya, gua harus mengantri bersama ratusan orang lainnya menunggu Taxi. Atau bersama puluhan orang lainnya "tidur" menyebar di bangku-bangku taman di sekitar sana.

Gua ga ada uang buat naik taksi, dan gua ga mau ngegembel di bangku taman.

"GUA HARUS DAPET BUS!".

--

Strategi yang gua lakukan untuk mendapat informasi tentang bis, tidak lain adalah bertanya dengan warga sekitar.

Akan tetapi, berkomunikasi malah menjadi cara terburuk untuk mendapatkan informasi. Setiap kali gua bertanya, orang-orang selalu saja menghindar, bisu tidak menjawab.

Miskomunikasi pun kerap kali terjadi, bahkan saat gua menemukan seseorang yang dapat berbahasa inggris.

Pandu : "Maaf apakah ini pelabuhan ferry?".
Nci-nci : "Apa?".
Pandu : "Apakah ini pelabuhan ferry (ferry harbor)?.
Nci-nci : "Oh, ini bukan pelabuhan ferry (ferry harbor), tapi pelabuhan ferry (ferry terminal)". 

Pandu : (dalam hati) "Itu sama aja, Ntong!".

--

Penantian gua berujung bahagia. Tiga puluh menit kemudian, bis menuju pelabuhan pun datang. Gua bergegas masuk, lalu mencari tempat duduk.

Untuk memastikan bahwa bis tersebut benar menuju pelabuhan, gua kembali bertanya kepada seseorang penumpang yang duduk di samping gua.

"Apakah bus ini ke pelabuhan?"

"Ya", ujar penumpang tersebut.

Gua lega luar biasa, saat menemukan seseorang yang bisa berkomunikasi dengan baik dengan gua.

Untuk memecah kebosanan selama perjalanan 20 menit menuju pelabuhan itu, kami pun mengisinya dengan obrolan "ngalor ngidul" seputar curhatan-curhatan ga penting sepanjang perjalanan..

Gua kemudian bercerita tentang bagaimana gua bisa tersasar hingga border. Tak lama, dia pun meresponnya dengan senyuman lebar.

"Jika kamu bertemu seseorang, lalu dia berkata No.. No (Tidak..Tidak)"

"..artinya dia bilang, dia ga bisa bahasa Inggris...".

Mendengar penjelasan tersebut, tiba-tiba gua menjadi , kesal , karena ketidaktahuan gua itu telah membuat gua tersasar jauh dan menghabiskan uang sebesar MOP 4,2 (Rp.5500) secara percuma untuk sebuah bis kembali menuju pelabuhan!.

Dalam kondisi itu, mudah sekali kepala ini memproduksi kata-kata kasar, beserta mulut yang siap memuntahkannya kapan saja.

Video ini cukup menggambarkan kalimat apa yang ingin gua teriakkan waktu itu!.


----


Setelah perjalanan malam yang cukup melelahkan. Paginya, gua bangun segar di atas sofa embuk di dalam rumah host gua.

Sofa tempat gua tidur
Rutinitas gua sehari-hari setelah bangun tidur, bisa digambarkan jelas dalam sebuah lirik lagu anak-anak yang sangat terkenal :

Bangun tidur kuterus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis Mandi kutolong ibu

... ... ... ...

Sebelum berhasil melaksanakan aktifitas di dalam lirik terakhir dari lagu itu. Tiba-tiba "panggilan alam" menuntun gua masuk ke dalam toilet.

--

Di sini lah, hal yang ga gua harapkan terjadi!. Selama beberapa bulan, gua sedang dirudung dilema mengenai tata cara orang-orang "cebok" di berbagai dunia.

Saking bolotnya. Gua bahkan pernah curhat di status Facebook tanggal 3 Mei 2010 tentang masalah beginian.

"Gimana sih cara ngebersihin pantat pake tisu ?".


Note : Gua ga tau seberapa berarakan dan hardcore-nya gua ngebersihin pake tisu waktu itu. Parahnya, ternyata banyak tisu yang robek dan nempel di pantat gua. Karena frustasi, akhirnya gua pun naek ke atas wastafel, buka keran, terus nungging dan deketin pantat gua yang berarakan sama robekan tisu plus kotoran ke dekat kucuran airnya. Bersih sih bersih.. tapi kenapa gua ngerasa idiot bener ya..

--

Setelah menyelesaikan "panggilan alam" itu, gua pun lalu menyelesaikan aktifitas terakhir di lirik dari lagu yang gua nyanyikan tadi.

..Membersihkan tempat tidurku.

--

Gua sempat "jalan-jalan" ke beberapa tempat menarik selama di sini. Gua beri tanda kutip ("...") di kata "jalan-jalan" karena gua benar-benar "jalan" dari satu tempat ke tempat lainnya. Jarang gua menggunakan bis kalau nggak terpaksa.

Macau adalah sebuah kota yang sangat kecil. Dengan luas yang hanya 29 km persegi. Menjadikan panjang wilayahnya kota ini tak kurang dari 2,5x panjang landasan terbang bandara. Bahkan dengan berjalan kaki selama 10 jam saja. Seluruh kota akan berhasil kita jelajahi.


Selama empat hari berada di sana, gua sempat ke beberapa tempat menarik di Macau, berikut mengunjungi beberapa kota menarik lainnya seperti : Hongkong dan Guangdong, Zhuhai. Tapi dari berbagai kota yang gua kunjungi, tidak ada tempat yang benar-benar membuat gua terkesan seperti saat gua memasuki kasino-kasino di Macau.

Pengalaman masuk ke dalam kasino adalah pengalaman luar biasa yang gua alami di sini. Perasaan tersebut mengalahkan perasaan berdebar gua saat mencoba wahana baru Dufan, Histeria baru-baru ini.

Terdapat kesamaan konsep yang gua lihat saat mengunjungi berbagai kasino di sana.

Di dalam kasino kalian tidak akan pernah melihat jam dipajang di mana-mana. Suasana kasino pun dibuat sedemikian rupa agar kita betah berlama-lama di sana : Atap yang dibuat sangat cerah, permainan lampu neon yang menawan, harumnya seluruh ruangan, bahkan berbagai komplementari champagne dan minuman, secara langsung membuat kita tercuci otak untuk tetap berjudi sambil menikmati berbagai kemudahan hidup yang diberikan secara "cuma-cuma".

Gua bisa bilang, berada di sana selama beberapa menit saja, sudah membuat kita seakan terikat dalam sebuah "kontrak" untuk tetap berada di sana selamanya!.

"Mungkin deskripsi gua terlalu berlebihan, tapi akhirnya kalian harus setuju juga, saat kalian mengunjunginya". 

--

Traveling mengajari gua cara bertahan hidup tanpa harus meminta-minta, tetapi dapat makan sepuasnya. (??)

Cara itu gua pelajari saat gua sedang mengunjungi reruntuhan (Ruin) St.Paul suatu hari.

Bagian depan St.Paul

 Bagian belakang St.Paul 

St.Paul adalah sebuah gereja katolik yang dibangun pada tahun 1582 hingga 1602. Gereja ini merupakan gereja katolik terbesar di Asia dulunya. Sekarang yang tersisa hanyalah tembok bagian depan dari gereja tersebut setelah terbakar hebat pada tahun 1830.

--

Di depan St.Paul banyak terdapat banyak toko yang menjual : Pakaian, makanan, hingga aksesoris. Melihat kondisi itu, tiba-tiba gua punya ide untuk mengisi perut yang sedang kosong saat itu.

Misalkan lo ga punya duit dan laper. Lo bisa pake cara gua buat dapetin makanan gratis di sana. Tapi satu hal : Ga boleh malu!.

--

Di luar toko makanan. Terdapat pegawai yang menawarkan berbagai jenis taster kepada orang-orang. Mereka memberikan taster tersebut, untuk dicicipi dalam jumlah banyak.

Di situlah, gua mendapat ide mencicipi berbagai makanan gratis sampe eneg. Gua mendatangi setiap toko makanan dengan dalih ingin membeli. Lalu mencoba berbagai sample yang ditawarkan, sambil memberi komentar "pedas" setelahnya.

"Aduh, dagingnya alot banget!". "Kuenya pahit!". "Kacangnya asin!".

Alasan-alasan negatif tersebut gua lontarkan agar gua bisa terlepas dari jeratan para pedagang, serta memperlancar perpindahan gua dari satu toko ke toko lainnya, demi mencoba beragam jenis taster sepuasnya.


-------

Sebenarnya gua lebih banyak berada di rumah host gua, membantu dia membersihkan rumah atau mencuci piring, dibandingkan jalan-jalan.

"Tragis, hidup gua macam TKI di sana!".

Mungkin ini adalah"karma" akibat memperbudak dua orang asing di rumah untuk mengepel lantai dan mencuci baju, beberapa hari sebelum keberangkatan.


Tapi semua itu gua lakuin atas dasar terima kasih, walaw dalam bentuk keringat yang keluar dari hasil gua menggosok-gosok lantai.

Pengalaman meng-hosting. Mengajarkan gua bahwa cendramata adalah barang yang diharapkan setiap host. Oleh karena itu sebelum pamit, gua memberikan sebuah gantungan kunci berbentuk angklung yang gua beli beberapa hari sebelumnya di Bandung kepada dia.

Setelah berpetualang selama beberapa hari di sana. Akhirnya gua pun harus menerima kenyataan, bahwa gua harus menempuh perjalanan udara yang panjang dan membosankan menuju suatu negara bernama Thailand.

---

Lamanya perjalanan dari Macau - Thailand ditempuh dalam waktu 14 jam dengan transit 12 jam di Kualalumpur.

Setelah mengurus imigrasi di Bandara Macau. Gua kemudian bersantai menunggu penerbangan yang tinggal sebentar lagi sambil menikmati segelas popmie "super jumbo" yang ukuran gelasnya bahkan hampir menyerupai ukuran ember buat nyuci di rumah.

Popmie jumbo!

22 Oktober, 2010

Traveling Malaysia (Kualalumpur) : Lamanya Perjalanan Ini..

Di awal-awal perjalanan tidak banyak hal menarik terjadi. Gua berfikir, dengan perginya gua, paling tidak dapat melepas seluruh penat atas berbagai kejadian yang terjadi selama beberapa minggu ini.

Beberapa minggu sebelum keberangkatan, banyak permasalahan tiba-tiba datang tak terduga. Diawali dengan permasalahan tunggakkan pembayaran tagihan yang dilakukan oleh sepupu gua, hingga masalah peminjaman uang yang dilakukan oleh seseorang. Dia berjanji akan segera mengembalikan, akan tetapi pada saat berangkat, uang tersebut sama sekali belum dikembalikan.

Di sini gua belajar sesuatu. Jangan pernah mengorek-ngorek uang traveling, di luar dari konteks yang berhubungan dengan "jalan-jalan". Apalagi meminjamkannya. "Itu kesalahan besar?!".

"Ya, benar. Gua harus memutar otak bagaimana caranya bisa traveling dan bertahan hidup dengan uang Rp.700ribu dan sebuah kartu kredit untuk beberapa minggu ke depan !".


-- 8 Oktober 2010

Keberangkatan pesawat ke KualaLumpur dijadwalkan pukul 6 pagi itu. Dari KL lah nantinya gua akan melanjutkan perjalanan menuju Macau pada keesokkan harinya. Destinasi gue dalam perjalanan ini antara lain.

8 Oktober 2010      : Bandung --> KualaLumpur
9 Oktober 2010      : Kuala Lumpur  --> Macau
13 Oktober 2010    : Macau --> Bangkok
25 Oktober 2010    : Bangkok --> Singapura 
26 Oktober 2010    : Singapura --> Bandung

Perjalanan padat (demi mendapat banyak cap) melintasi Asia Tenggara dan Timur tersebut akan diselesaikan selama 18 hari, terhitung sejak keberangkatan tanggal 8 Oktober hingga 26 Oktober 2010.

----

Dalam bisnis penerbangan murah. Ada satu hal yang jangan terlalu kalian harapkan : kenyamanan.

Perasaan khawatir mulai meliputi seketikanya gua masuk ke dalam pesawat. Perasaan itu muncul pada saat gua melihat interior pesawat yang terlihat tidak jauh berbeda seperti interior bus kota ; Jok lusuh, engsel kursi rusak, hingga sampah yang tidak dibersihkan.

Melihat kondisi dalam pesawat yang mengerikan seperti ini. Jelas membuat gua berharap, semoga sekrup sayapnya masih terpasang..

(kursi rusak)
--

  
(sampah belum dibersihkan)
--

 
(jok lusuh)

( Note : Saat mengambil gambar di atas, beberapa awak kabin selalu memperhatikan gerak gerik gua sambil bertanya pertanyaan yang sama berulang kali, "Sedang apa, pak?"..)

-----

KL menjadi pemberhentian pertama gua sebelum melanjutkan perjalanan ke Macau keesokan harinya. Butuh waktu 5 jam untuk gua bisa sampai ke KL-Sentral dari LCCT. Gua meluangkan waktu di Bandara, mencari berbagai kemungkinan termurah untuk bisa sampai ke Sentral.

Beberapa hari sebelumnya gua mencoba menghubungi seorang kenalan yang berprofesi sebagai jurnalis di KL. Gua mengirim SMS, " Apa kabar? Saya berencana pergi ke KL hari jumat ini. Mungkinkah kita bisa bertemu di Bandara?". Beberapa jam kemudian dia membalas, "Diusahakan, tapi tidak janji."

"Meminta bertemu" sebenarnya hanyalah akal-akalan gua saja. Maksud terselubung adalah mencari tumpangan ke Sentral.

Selama kurang lebih dua jam setelah landing, gua pun menyibukkan diri dengan buku catatan dan kalkulator di tangan. Mengkonversi perbedaan kurs adalah hal yang langsung gua lakukan setibanya di bandara. Setelah mendapat harga terbaik di salah satu tempat penukaran mata uang, hal berikut yang dilakukan adalah survey kendaraan termurah menuju Sentral. Setelah mencari, hanya ada satu bus murah bernama Aerobus yang membawa gua ke Sentral dengan harga 8 RM one-way, 1 atau 2 RM lebih murah dari bus lain yang serupa.

Pada saat sedang mencari bus itu lah, tiba-tiba gua mendapat SMS yang membuat gua tersenyum ..

"Pandu, di mana? Saya mau pergi ke rumah sebelum Jumatan. Jika kamu masih di Bandara mungkin kita bisa bertemu. nanti saya jemput untuk makan siang di rumah. Boleh?".

(Hanya orang tolol menolak tawaran tersebut)

--

KL itu seperti ibarat anak muda yang sedang belajar mempersolek diri. Sangat mudah menemukan tempat-tempat di sekeliling kota yang sedang "dipermak" untuk kepentingan wisata. Jika membandingkan dengan Jakarta, bagaimana membandingkannya gua sendiri ga tahu, kita tertinggal cukup jauh..

Kota ini berusaha menampilkan "kesan" keseberagaman hidup antara satu ras dengan ras lainnya kepada pendatang..

Indonesia memiliki lebih dari 500 suku dan ras yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, tetapi semua tetap menggunakan bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.

Sedang keberagaman yang terlihat di sana adalah keseberagaman yang dipaksakan. Ketika kita melihat mereka berbaur dalam satu tempat yang sama, sebenarnya mereka hanya berinteraksi antar sesama rasnya saja. Mereka tidak benar-benar berbaur seperti yang kita lihat.

Orang India menggunakan bahasa Hindi, orang Cina menggunakan Mandarin, sedang orang Melayu menggunakan Melayu. Di sinilah gua pikir kekacauan sedang terjadi. Mereka benar-benar berdiri sendiri, tanpa ada wadah berupa bahasa persatuan yang mempersatukan mereka. Bahasa yang mereka gunakan untuk komunikasi antar ras adalah, bahasa inggris.. ("Bahasa inggris??!!")

--

Diliat dari style berpakaian, banyak perempuan di sini mengenakan baju kurung. Tapi bagi mereka yang tidak menggenakannya. Mudah sekali menemukan mereka yang "berselera rendah" dalam berpakaian.

Bahkan menurut gua, cowok-cowok Malaysia itu tuh, baik dandanan maupun mukanya. "Sumpah mirip Tukul!".

--

KL Sentral adalah hub utama menuju KualaLumpur. Di sini terdapat berbagai lajur rel termasuk KLIA Ekspres, KLIA Transit, KTM Intercity, KTM Komuter, Putra LRT, dan KL Monorail. Dengan semua sistem rel yang terintegrasi di satu tempat ini kita bisa dengan mudah menuju berbagai tujuan di berbagai tempat.

Selain kereta, di Sentral pula terdapat hub transportasi lainnya juga, semisal bus kota, mobil hotel maupun taksi.

  
KL-Sentral 

--

Tidak banyak yang gua lakukan di Sentral selain menunggu waktu malam tiba. Seorang ibu paruh baya yang akan menjadi host gua, meminta gua datang ke rumahnya sepulangnya bekerja jam 8 malam nanti. Selain itu gua juga ada rencana ketemu teman gua di KLCC jam 7 malam nanti.

Waktu sekarang menunjukkan pukul 2 siang. Itu artinya lebih dari 6 jam gua harus mencari kesibukan sendiri.

Dengan ransel padat yang dibawa ke sana ke mari jujur membuat gua tidak leluasa berjalan.. Semakin jauh melangkah, semakin keringatan pula jadinya.

Sembari menunggu, gua pun memutuskan untuk duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap pendingin sambil menulis jurnal sepanjang waktu.

Menghadap pendingin sangat membantu saat keringetan di awal-awal, tapi setelah beberapa saat, kepala gua mulai terasa kaku dan mati rasa..

--

Pertemuan dengan Mr.Bhagwan di Mandarin Hotel KLCC malamnya, adalah pertemuan kedua kalinya gua dengan beliau.

Beliau adalah seseorang pria keturunan India-Malaysia yang dulu sempat gua host bersama dengan teman gua Ilman di Bandung.

Banyak yang terjadi selama 4 bulan terakhir. Tapi dia tetap dalam kesehajannya sebagai seorang bapak yang penuh dengan nasehat bijak kepada gua.

Bhagwan datang bersama dengan temannya, Josephine. Di adalah seorang pemilik sekolah TK di negara bagian Selangor. Selain itu, dia pula merangkap sebagai guru di sekolah tersebut.

Dalam suatu kesempatan, Josephine memancing pembicaraan yang menyerempet ke masalah TKI, serta hubungan politik antara kedua bangsa.

Jujur, gua paling malas ngeladenin pembicaraan macam begitu.

Konteks pembicaraan tersebut sangat tidak tepat dibicarakan pada saat kita sedang bertemu teman lama.

Mengetahui Josephine berasal dari Selangor. Gua pun mencoba mengorek informasi tentang lokasi tempat dia tinggal."Kalau kamu tinggal di Selangor, berarti dekat Bandara dong?". Dia menjawab, "Benar, rumah saya dekat Bandara, 30 menit perjalanan dengan mobil". Gua kembali bertanya, "Besok saya akan ke Macau, apakah mungkin kita bisa bertemu lagi sebelum saya berangkat?".

--

Ketika mengajukkan pertanyaan terakhir, tangan gua bersilang. Gua berharap dia menjawab, "Saya ada waktu".

Dalam keadaan berhemat dan tidak punya uang waktu itu. Dorongan untuk meminta bantuan kepada orang lain sangatlah besar dibandingkan dorongan gua untuk makan. Gua harus berhemat dengan sejumlah uang yang gua punya untuk 3 minggu mendatang..

Apapun akan gua lakukan demi mendapat tebengan ke Bandara.. Walaw itu artinya gua harus mempermalukan diri sendiri..

Di sini gua merasakan suatu kebanggaan tersendiri dibandingkan orang-orang Indonesia yang kebetulan sedang berpergian ke KL saat itu. Mindset gua bukanlah bagaimana cara mengambil foto dengan angle yang tepat di hadapan menara kembar untuk di-upload di facebook. Melainkan, mindset yang terbentuk adalah adalah "Bagaimana caranya survive selama beberapa minggu ke depan dengan mengandalkan orang-orang yang berada di sekitar gua?".

Di sinilah gua menemukan"asik"-nya survival macam begini!.

--

"Bisa!. Bagaimana jika besok kita bertemu di Bukit Jalil jam 12 siang? Saya akan mengajak kamu ke restoran favorit saya, sebelum kita ke bandara. Nanti saya yang bayar", Jawab Josephine.


KL Magnificent!!!. Gua bertemu orang-orang Luar biasa! Mereka memperlakukan gua sempurna, walaw baru pertama kali bertemu..

Hal serupa jelas akan gua berikan, pada saat mereka mengunjungi Bandung suatu ketika..

-------

Mencari rumah host adalah pekerjaan yang susah-susah-gampang. Selesainya bertemu Mr.Bhagwan dan Josephine jam 21:30 di Suria. Gua lalu melanjutkan perjalanan ke daerah Maluri.

Petunjuk gua hanyalah secarik kertas yang sempat gua print, bertuliskan :

--

Dear Pandu Here's my address

DIRECTIONS:

From KL International Airport take a bus (after customs check-point take lift to 2nd floor and go across to next building - then go to ground floor where bus station is)
- there's the ERL (train) but its a bit costly.
Both the bus or ERL goes to KL Central terminal.

OR

If you come with Airasia - take bus to KL Central.

AND

*From KL Central take RAPID bus No. B112 (KL Central-Maluri) direct to my place (RM1.00)- Ask bus driver to drop you at 2nd bus stop along Jalan --- (pronounced as ---). Get down & cross the road and walk along Lorong --- until you see Jalan --- my house is no -- from --- junction.

OR

Take taxi from anywhere in the city - taxi with meter (about RM10 - RM15)
(Tell them you are going to Jalan ---) - from Jalan --- follow above direction.
OR
Take LRT (Ampang Line train) to Maluri Station, then walk 20 minutes to my place.
 
ADDRESS:

Jalan --- No --- off Jalan ---- Kuala Lumpur Federal Territory,
Malaysia

---

Sesuai dengan apa yang tertulis di kertas. Gua harus mengambil LRT (Light Rail Transportation), semacam kereta dalam kota, dan turun di stasiun Maluri.

 Klik untuk perbesar : Rute KLCC menuju Maluri ditandai dengan tanda panah

-- Lamanya perjalanan ini..

Waktu menunjukkan pukul 22:30 setibanya gua di stasiun Maluri. Semenjak kepergian dari Bandung hingga sekarang gua sama sekali belum istirahat. Perasaan ingin tidur mengalahkan rasa haus dan lapar yang sedang gua alami saat itu.

Gua kembali membaca secarik kertas petunjuk jalan menuju rumah host gua.

Tiba-tiba gua terdiam beberapa saat, setelah membaca sebuah baris bertuliskan..

...Take LRT (Ampang Line train) to Maluri Station, then walk 20 minutes to my place... 

"Hah!! Harus jalan 20 menit lagi!!."

Mental dan fisik gua sangat berontak pada saat itu. Namun tidak ada pilihan lain selain terus berjalan..

--

Mencari alamat seseorang di tengah malam adalah suatu kesalahan. Terbatasnya pandangan akan papan petunjuk jalan membuat kita harus bekerja ekstra membaca alamat jalan agar tidak tersasar lebih jauh..

Setelah 30 menit berjalan dan tidak menampakkan hasil. Gua pun memutuskan untuk kembali ke stasiun Maluri, dan bertanya dengan petugas di sana.

Di sini gua sedikit shock, ketika seluruh pegawai maupun satpam stasiun sepakat menjawab, "Tidak tahu!".

Karena tidak mendapat informasi yang membantu. Gua pun ke luar stasiun lalu bertanya dengan orang-orang di sekitar :

Bertanya dengan Ibu-ibu

Pandu : Ibu maaf apakah ibu tau alamat ada di kertas ini?
Ibu     : ...
Pandu : Apakah ibu tahu?
Ibu    : Maaf, saya buru-buru ingin menjemput anak di TK sekarang.
Pandu : ("Ngejemput anak TK jam 11 malam?." Gua pun segera menjauh karena takut ibu ini punggungnya bolong.).

Bertanya dengan Bapak-Bapak

Pandu  : Maaf, Apakah bapak tau alamat yang ada di kertas ini?
Bapak  :  (Tanpa menoleh ke kertas gua) TIDAK!
Pandu :  (Galak bener.. mana sih pemiliknya. hewan buasnya lepas nih!)

Bertanya dengan Polisi


Pandu : Maaf, pak. Saya ingin bertanya alamat yang ada di kertas ini?
Polisi : Alamat yang mana?
Pandu : Alamat yang ini pak?
Polisi : (Sambil melihat sebentar) Saya tidak tahu. Ngapain kamu malam-malam cari alamat. Mana ID kamu?

(Gua pun merogoh-rogoh isi tas demi mencari passport gua).

Pandu : Ini pak. (Sambil menunjukkan passport berwarna hijau gua)
Polisi : Indon..

(Setelah mengeluarkan komentar yang tidak pintar itu, sang Polisi lalu masuk ke dalam mobil patroli lalu pergi tanpa berkata apapun yang membantu).

--

Dalam keadaan semakin letih setelah satu jam berjalan. Keinginan utama gua saat itu hanyalah, tidur..

Mata gua perlahan meminta ditutup, Langkah terasa berat, diiringi dengan fikiran yang tidak fokus..

Dalam kondisi seperti itu, mudah sekali gua berfikiran negatif.

Pikiran negatif yang muncul pada saat gua sedang depresi saat itu adalah..

"ALAMAT HOST GUA FIKTIF!!".

----- 

-- Flashback : Satu hari sebelum keberangkatan

7 Oktober 2010

Saat itu gua gua sedang kedatangan seseorang tamu berkebangsaan Belanda bernama Alex.

Alex adalah seorang penyanyi latar, penulis lirik, dan juga farmasis.

Dengan suara merdunya, tak jarang gua memanfaatkan dia sebagai MP3 berjalan ketika gua sedang mengendarai motor di tengah macetnya kota Bandung.

"Alex, gua BT, macet di mana-mana. Nyanyi!".. Lalu menyanyilah dia di atas motor gua..

--

Mampu menghafal dan melafalkan angka secara baik dan benar adalah hal dasar yang harus dipelajari saat berpergian ke negara lain.

..sedang..

Mampu "mengumpat" adalah keharusan!. Well, kalian tidak tahu apa yang akan terjadi sepanjang perjalanan, bukan?. Ketika bahasa halus tidak bisa menyelesaikan masalah di jalan. Kemampuan mengumpat adalah sebuah solusi.


--

Dua hal itulah yang gua ajari kepada Alex sebelum meninggalkannya berpetualang sendiri menggunakan angkot hari itu.

"Alex, jangan lupa yah.. Yang ini untuk berhitung.. Yang ini buat mengumpat. Jangan kebalik!"

Setelah selesai mengambar rute angkot serta menulis rincian ongkos kepadanya. Gua pun siap melakukan aktifitas tanpa gangguan orang lain. Berbelanja! :)

--

Berbelanja adalah mimpi buruk seluruh pria. Saat mereka berada di sebuah tempat yang berisi berbagai macam barang. Otomatis mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengar apa yang wanita katakan.

Solusi mengatasi masalah ini adalah membuat daftar belanjaan.

Itu lah yang gua lakukan sebelum memutuskan berbelanja di sebuah Toserba di Jl.Merdeka Bandung saat itu.

Di sana, gua membeli seluruh perlengkapan yang diperlukan untuk keperluan traveling keesokan harinya. Konsep harga terbaik bagi seorang mahasiswa adalah. "Barang termurah. Itu barang terbaik!".

Dengan seketika, gua pun segera mencari barang termurah yang dibutuhkan. :)

--

Hari telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Karena tidak bisa meng-host Alex lagi. Akhirnya gua pun "menyerahterimakan" dia kepada teman gua, Erick.


Tengah malam gua terpaksa menggeret-geret Alex beserta backpack besarnya di atas motor kecil gua berkapasitas 100cc menuju rumah teman gua.

Seusai mengantar, yang gua lakukan selanjutnya adalah menunggu..

Menunggu penerbangan beberapa jam lagi yang akan mengantar gua berpetualang selama beberapa minggu ke depan..

-- end of flashback 


Jika seorang laki-laki sedang lelah, saran baik. Jangan mengganggunya!. Keinginannya menutup mata sama kuatnya dengan keinginan untuk memukul seseorang.

Lelah setelah berjalan 1,5 jam dan 45 jam belum tidur lamanya. Membuat gua berfikir bahwa jalanan adalah tempat beristirahat gua malam itu..

Kesal, gua pun meremas keras petunjuk jalan dalam genggaman gua.

--

Ada sebuah papan petunjuk di seberang jalan. Papan tersebut dipisahkan oleh dua buah jalan besar yang terdapat tanda larangan untuk menyebrang.

Karena kurangnya penerangan, maka gua membutuhkan kesabaran ekstra untuk bisa membacanya.

Sampai akhirnya, ada mobil yang melintas, kemudian menerangi petunjuk jalan itu dengan lampunya.

Papan itu bertuliskan "Jalan ---".

"Bajingan! Bangsat! ternyata jalan Bedebah yang gua cari ada di sebrang jalan, Anjing!!!".

See?.. Kemampuan berbahasa kotor menjadi sebuah solusi, bukan?

--

Taman Maluri adalah sebuah perumahan utama di luar kota Kuala Lumpur, letaknya berdekatan dengan perbatasan negara bagian Selangor. Di sini terdapat sebuah pusat perbelanjaan terkenal bernama Jusco shopping center.

Di sana pula terdapat beberapa restoran siap saji ternama seperti : Pizza hut, KFC dan McDonalds.

Ketiga restoran itu tersebut menyediakan layanan Delivery Service (DS). Terlihat dari banyaknya motor DS terparkir di depan restoran beserta DS-boys yang sedang bercanda gurau.

--

...at 2nd bus stop along Jalan --- (pronounced as ---). Get down & cross the road and walk along Lorong --- until you see Jalan --- my house is no -- from --- junction....

Sesuai dengan petunjuk dalam kertas yang gua punya. Sepertinya jalan menuju rumah host gua masih jauh jaraknya. Bahkan stopan bus pun belum terlihat.


Melihat peluang di depan mata yang dapat mengantar gua ke lokasi tempat tinggal host secara gratis. Gua pun segera mendekati DS-boys dengan memasang wajah memelas seperti yang dilakukan puss in boots dalam film Shrek sebelumnya.

"abang.. saya tersesat.. " 

--

"Oh, kamu sedang mencari alamat. Mudah, dari sini lurus, ketemu persimpangan belok kiri, nanti di sana ada ada ruko, belok kiri, lurus saja sampai ketemu sekolah, belok kanan sampai mentok, belok kiri, di sana ada lorong --- kamu terus, belok kanan, lurus, ketemu persimpangan, belok kiri ada stopan bus, kemudian lurus menuju lorong --, belok kiri, .... kemudian belok... kemudian... kemudian.. lalu belok...".



"saya lelah berjalan..."

--

"saya sibuk tidak bisa mengantar, saya ada pesanan sekarang".

 "Saya belum makan.."

--

"Berhenti memandangi saya seperti itu!"

(tetap memandangi..)

--

DS-Boys : Arrrggghhh... Baik saya antar!
Pandu : terima kasih!

 (Note : Pembicaraan ini fiktif, tapi kondisi memelas gua saat itu ke mereka adalah nyata!

---

Gua pun mendapat tumpangan gratis menggunakan motor berlogokan pizza hut. Di sini gua belajar sesuatu. Apabila ingin bertanya jalan, keputusan bertanya kepada polisi sudah tepat. Tapi lebih tepat jika diserahkan kepada ahlinya. Delivery boys!.

---------

Host gua di KL adalah seorang wanita paruh baya bernama Elma.

Dia adalah seorang nenek dari dua orang cucu dan empat orang anak. Anak ketiga dan keempat masih tinggal bersamanya. Sedang anak yang pertama dan kedua telah tinggal bersama dengan keluarganya masing-masing.

Dia tinggal di sebuah rumah tua di pinggiran kota KL. Untuk masuk ke dalam rumahnya, kita harus melalui sebuah garasi, di mana terdapat dua buah mobil sedang diparkir beserta dengan sebuah pekarangan kecil di sisinya.

Ada yang menarik. Di pekarangan itu dibangun sebuah tenda yang biasa digunakan orang untuk camping..

"Kok bangun tenda di pekarangan, sih?", tanya gua dalam hati.

--

Ibu.Elma memaklumi keterlambatan gua. Bahkan, dia menyuruh gua segera masuk, lalu membuatkan segelas teh limau segar dan menaruhnya di meja ruang tamu tempat gua berada.

Di ruang tamu itulah, gua melihat berbagai macam toples berisi kue lebaran yang belum habis dimakan. Dalam kondisi kelaparan. Gua pun tanpa malu bertanya :

"Kuenya kayaknya enak ya, bu?"

Petanyaan gua implisit, tapi pesan gua cukup jelas. "Gua laper!".

Mendapat sinyal pesan itu, sang ibu pun langsung menawarkan kue-kue tersebut ke gua. :p

--

"ibu, tenda di depan rumah itu untuk apa?", tanya gua.

"untuk tinggal tamu..", jawabnya datar.

Gua terdiam sejenak. Gua berfikir, di sanalah gua akan tidur malam ini. Di dalam tenda, seperti anjing dalam kandang.

".. kalau kebetulan lagi banyak orang datang..", lanjutnya.

Menyadari gua adalah tamu satu-satunya saat itu. Gua pun merasa lega. Karena gua yakin malam itu gua akan tidur di dalam rumah.

Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul setengah 4 pagi. Gua kemudian memutuskan menyudahi pembicaraan dengan "berpura-pura" terkantuk-kantuk di depan host gua. :p

------

Pariwisata

Sebenarnya pariwisata di KL sama seperti pariwisata di Jakarta. Yang membedakan hanyalah, "Kemasannya".

Kemudahan transportasi menjadi andalan mereka. Berbagai kendaraan umum yang menghubungkan KL dengan daerah di sekitarnya terbangun sangat baik. Kondisi itulah yang membuat orang betah untuk tinggal lama dan loyal "membuang" uangnya di sana.

"Bagaimana dengan Jakarta?"

Pada saat gua sedang mengetik blog ini. Di berbagai media online, twitter, maupun televisi. Warga Jakarta sedang mengeluhkan hal yang serupa : "Hari ini kami tidur lebih malam!. Jakarta macet total! Jakarta banjir!".

"Image!". Itulah yang sedang dibangun pemerintah Malaysia. Mereka sadar akan beberapa faktor yang dapat membangun citra negaranya : ibukota, bandara, dan maskapai penerbangan. Oleh karena itu, tidak heran kenapa mereka rela membangun segalanya dengan standar Internasional.

--

Hal menarik tentang pariwisata KL gua temui pada saat gua sedang berkunjung ke Istana Negara keesokan harinya.

Ketika baru sampai. Gua sempat berdecak kagum dengan banyaknya bus pariwisata yang sedang di parkir di sana. Melihat kondisi tersebut, jelas lah gua berharap akan melihat sesuatu yang menakjubkan.

Tak lama setelah gua berjalan dari tempat parkir. Gua kemudian melihat turis dari berbagai negara sedang berkumpul lalu bergiliran mengambil foto bersama dengan petugas keamanan di depan gerbang istana.

Ketika istana adalah kawasan pribadi yang tidak bisa dimasuki sembarang orang. Pemkot KL membuat suatu "pengalihan" dengan menampilkan suatu atraksi menarik "di depan gerbang istana" dalam bentuk satpam yang didandani baju cerah sedang menunggangi seekor kuda.

Sampe sekarang gua masih tetep takjub. "Hebat yah, untuk bisa foto bareng sama satpam aja bisa bikin orang sampe ngantri??".



-------

Pertemuan gua dengan ibu Elma sangatlah berkesan walaw tidak lama. Gua kembali mendapat seorang teman baru yang akan menerima gua kapan pun untuk tinggal di rumahnya pada saat gua sedang di KL.

Selesai melakukan tur ke beberapa tempat menarik di KL hari itu. Gua pun diantar oleh dia ke stasiun Bukit Jalil, di mana gua akan bertemu dengan Josephine, teman dari Mr.Bhagwan yang akan mengantar gua ke Bandara.

Sepanjang perjalanan gua dan Josephine membahas suatu hal yang cukup dramatis untuk dibicarakan.

Dia mengutarakan isi hatinya terhadap kekesalannya terhadap pemerintah Thailand yang selalu diam mengenai perdanganan anak-anak. Dia bercerita mengenai pengalaman pribadinya melihat seorang anak perempuan berumur 12 tahunan, dibawa masuk ke dalam mobil oleh seorang pria asing tua berumur 60 tahunan di Bangkok beberapa tahun lalu.

"..Saya liat dengan mata kepala saya sendiri.. Saya tahu.. apa yang akan dilakukan pria tua itu terhadap anak kecil itu.. Kenapa tidak ada yang bisa hentikan itu..". Ungkap Jospehine dengan suara parau dan mata yang mulai memerah.

Tak lama.. Airmatanya pun jatuh ke pegangan tangannya yang sedang memegang kendali mobil saat itu..

------

Di Bandara gua mencoba check in menggunakan mesin self check-in. Setelah memasukkan beberapa informasi, tak lama kemudian mesin pun akan mem-print boarding pass kita.

Kalau cuma bawa handcarry aja. Ini adalah cara tercepat mendapatkan boarding pass, dibanding harus mengantri di counter check-in. Tapi sayangnya cara ini tidak begitu efisien di semua bandara.

Gua mengalami pengalaman berbeda di Bangkok menggunakan cara ini. Setelah mendapat boarding pass melalui mesin ini. Petugas tetap menyuruh gua mengantri di counter check in untuk pemeriksaan dokumen seperti layaknya gua akan memasukkan sesuatu ke bagasi.

 

--

Perjalanan ke Macau dari KL menempuh waktu 4 jam perjalanan. Setelah menyelesaikan masalah boarding pass dan keimigrasian, akhirnya gua pun siap menunggu keberangkatan yang tinggal beberapa jam lagi.

Di ruang tunggu, gua sempat berceloteh di dalam hati.

"Hmhm.. Sepertinya penumpang yang berkulit eksotis di penerbangan ini hanya gua aja deh kayaknya.. :p".

--

CS Profile : https://www.couchsurfing.org/profile.html?id=7IF9NJP
Twitter ID : @makananenak
Supported by
FLIGHT 001 Gandaria City | Plaza Indonesia
https://www.facebook.com/Flight001Asia