16 Agustus, 2012

Korelasi Antara Praktek Kanibalisme Terhadap Langkanya Jumlah Pohon di Dunia.

Berawal dari membaca sebuah tulisan blog berjudul Pilihan dan Tanggungjawab. Mendadak terbersit dalam fikiran gue untuk menjawab sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh sang blogger sahabat karib gue dalam posting-annya tersebut.

"Jika di bumi ini cuma tersisa lima pohon dengan pertumbuhan penduduk yang konstan, apa yang akan kita lakukan?."

 Jika hal itu benar-benar terjadi, menurut gue. Mungkin manusia akan berubah menjadi kanibal, memakan sesama manusia sebagai cara untuk bertahan hidup. Sangat sulit menemukan daging untuk dimakan, karena rantai makanan telah rusak, dimulai dari punahnya hewan herbivora dan manusia penganut paham vegetarianism. Yang tersisa hanyalah spesies omnivora dengan spesies yang sangat berlimpah, melebihi jumlah spesies lainnya. Primata, mungkin itu sebutannya.

Saat manusia mengkonsumsi makanan mereka - manusia. Mereka tidak mempedulikan apakah makanan itu dimasak terlebih dahulu atau tidak. Mereka suka memakan manusia hidup-hidup. Dimulai dengan mengunyah bagian mata, jantung, lalu otak yang mengandung banyak cairan. Mereka haus, bibir mereka pecah-pecah, kaki mereka apa lagi.. Air untuk minum menjadi suatu yang sangat sulit didapatkan. Sungai yang mengalir hanya setinggi 1 cm pun dibendung demi kepentingan suatu negara besar. Air tawar adalah benda berharga yang diperebutkan seperti halnya minyak bumi bertahun-tahun lama sebelumnya.

Siklus hujan menjadi jarang, karena suhu permukaan meningkat. Bumi tidak lagi mampu menyokong kehidupan di atasnya. Tanah tidak lagi bisa membuat dirinya subur, karena berbagai organisme dalam tanah yang sebelumnya hidup dengan membuat lubang dan memberi ruang bagi oksigen untuk masuk ke dalamnya secara perlahan menghilang. Akhirnya tanah menjadi kerontang sehingga mempercepat pengerosian. Cepat lambat bumi tempat tinggal manusia kanibal itu pun berakhir kering seperti halnya dataran Mars atau bahkan menyerupai satelitnya sendiri, Bulan. Tidak adanya proses respirasi yang dilakukan oleh pohon-pohon besar. Menyebabkan udara kotor dengan kadar Co2 melimpah sehingga menyebabkan masalah pernapasan di dalam tubuh kanibal yang renta itu. Tubuh mereka mulai dialiri oleh darah yang mulai menggumpal akibat meminum darah manusia dari berbagai rhesus dan jenis golongan. Saat hal itu terjadi. Sepertinya, manusia tidak perlu berfikir panjang atau bahkan berbuat apa-apa lagi. Karena seperti halnya pohon, mereka sendiri tidak punya pilihan untuk bertahan hidup.

Di sini tidak ada yang bisa membeli kehidupan, seseorang yang kaya dengan genggaman dolar di tangan pun akan membiarkan dirinya mati gelisah dalam gemetar di saat dirinya diikat dengan sodoran pisau oleh kanibal, sehingga saat matanya dicongkel dia kemudian mati perlahan dalam sebuah nama besar (yang belum tentu dikenang). Sesaat setelah dia merelakan tubuhnya ditusuk lalu dimakan, angin pun meniup lembaran uang dalam genggamannya yang mulai melemah dalam keadaan gentar.

Lalu.

Muncul pertanyaan lain. Di saat manusia tidak lagi dapat mengandalkan teknologi yang mereka ciptakan untuk mensejahterakan hidup mereka sebelumnya. Apakah dalam situasi seperti ini 7 miliar manusia kemudian akan berdoa berharap suatu keajaiban?. Atau berusaha realistis, dengan menjadi kanibal untuk dapat bertahan?

--

Hoaamm.. Ya, belum terjadi juga sih. Makanya mulai jaga lingkungan.

22 Juli, 2012

Gue Harap Gue Seekor Ikan Yang Bisa Merendam Kepala Dalam Air Selama-lamanya..

Pagi hari tadi sebelum sahur, gue bangun dalam keadaan harus mandi junub (mandi wajib). Sebenarnya keadaan tersebut tidak menyenangkan sama sekali, karena selama seminggu ke belakang ini. Suhu di Bandung cukup dingin, di mana mandi saat subuh bukanlah keputusan yang tepat. Tapi, tidak ada yang bisa dilakukan selain mengerjakannya jika ingin pahala puasa gue diterima.

Tidak ada yang tahu. Sebelum mandi, sebenarnya gue punya suatu kebiasaan merendam kepala gue ke dalam bak mandi. Tidak ada alasan yang tepat, yang mampu menjelaskan tentang kebiasaan ini. Gue hanya tau, bahwa hal ini sudah gue lakukan dari kecil dulu.

Tapi, ada yang berbeda saat gue merendam kepala tadi pagi. Tiba-tiba karena itu, gue teringat berbagai kejadian yang terjadi beberapa bulan ke belakang yang secara tidak langsung telah merendam kepala gue..

dalam rasa malu.

--

Sebagai seorang yang spontan. Sering kali gue berkata salah setiap waktu. Saat hal tersebut terjadi, biasanya gue selalu berusaha merangkak keluar dari situasi memalukan tersebut. Tapi, semakin gue berusaha, semakin tenggelam kepala gue dalam perasaan malu.

Beberapa bulan yang lalu, gue bertemu dengan seorang teman akrab sewaktu kecil di Depok. Dia membawa empat orang temannya. Dua laki-laki dan dua perempuan. Kita berbicara tentang semua kenangan-kenangan manis yang telah terjadi di masa lalu dan semua orang saling bergantian bercerita. Pembicaraan terdengar baik-baik saja sampai akhirnya gue berkata : "Hey, katanya kamu sudah menikah, kenapa kamu tidak membawa istrimu?. Saya mau bertemu."

Teman gue terlihat bingung lalu berkata, "Ini istriku, di sini". Seorang perempuan yang duduk di sampingnya mendadak menunjukkan perasaan tidak nyaman.

Sadar telah berkata salah. Gue segera bilang, "Maaf, kamu belum memperkenalkannya kepadaku."

Dia bilang, "Sudah, di pernikahan kami."

Jika ada yang memberikan pistol waktu itu, gue siap bunuh diri saat itu juga.

Seminggu yang lalu, gue tak sengaja bertemu dengan seorang teman di luar. Kita berdua biasanya bercanda mengenai kejelekan rupa kita berdua yang mungkin akan membuat kita sulit mendapatkan istri di masa depan. Di sana, gue juga bertemu dengan seorang perempuan cantik yang kebetulan sedang jalan berdua dengannya. Mungkin temannya. Karena gak mungkin itu pacarnya. "Orang jelek itu, wanita cantik ini?". Pasti temannya - Gue berusaha meyakinkan diri gue dalam hati. Jadi kita bertiga kemudian memutuskan untuk berbincang-bincang untuk sementara waktu.

Setelah mengobrol beberapa saat, akhirnya, si perempuan berkata, "Saya harus pulang sekarang, sudah malam."

Di saat yang sama teman gue pun berkata, "Saya juga harus pulang."

"Kenapa?" Gue bertanya.

"Saya harus antar perempuan cantik ini pulang, karena dia.." dia bilang sembari tertawa, lalu menaruh tangannya melingkari pundak perempuan tersebut.

Gue fikir dia sedang bercanda. Lalu gue berkata ke perempuan tersebut, "Pasti horror banget yah kalau misalkan kamu pacaran sama dedemit buruk rupa ini?."

Mereka tertawa awalnya. Gue juga tertawa. Kemudian teman gue berusaha melihat apakan gue serius saat mengatakan itu. Akhirnya dia berkata, "Kamu tau kan kalau kita berdua pacaran?." 

Gue masih tertawa karena gue pikir dia sedang bercanda. Kemudian mukanya berubah menjadi serius dengan garis tegas melipat di dahinya, "Dia pacar saya." Di situlah gue sadar bahwa dia tersinggung, dan apa yang baru gue katakan tadi adalah salah.

"Pistol, mana. Pistol!"

Beberapa minggu lalu, kejadian serupa terjadi lagi.

Dalam suatu pertemuan dengan teman lama di Bandung, akhirnya gue bertemu dengan seorang teman lama perempuan. Informasi terakhir yang gue dapat adalah dia sedang mengandung anak pertamanya, dan dia menjadi gendut karena itu. Kita semua kemudian bercakap-cakap, sampai akhirnya gue bilang ke perempuan itu, "Coba gue tebak, bayi yang dikandung pasti perempuan."

"Ya." dia bilang.

"Tau nggak kenapa gue tau? Karena kamu terlihat lebih cantik. Saat seorang wanita sedang hamil dan terlihat cantik, bayinya pasti perempuan," Gue bilang. Sebagai teman yang baik, gue berusaha memberinya pujian. Karena, gue fikir setiap perempuan yang sedang mengandung pasti takut akan perubahan fisik pada dirinya. "Sudah berapa bulan?" tanya gue lagi.

"Bayinya sudah lahir dua bulan lalu. Sekarang saya sedang berusaha menurunkan berat badan. Memang masih keliatan kayak hamil yah?."


--
DORR!!
--

Kalimat tersebut benar-benar menembak gue - dalam arti yang sebenarnya. Gue benar-benar  tenggelam dalam perasaan malu.

"Ga usah khawatir, Ndu. Kamu adalah orang keduapuluh yang berkata begitu," sautnya dengan senyuman sinis.

Ga beberapa lama kemudian, gue meminta izin pulang lalu berjalan perlahan ke pintu keluar. Beberapa orang bertanya, "Mau ke mana?". Gue bilang, "Jangan buat gue buka mulut ini."

Sampai di rumah, gue masuk ke dalam kamar gue yang berantakan dengan isi tumpukan buku referensi penelitian gue di mana-mana. Gue bilang ke mereka, "Brengsek loe (buku-buku)!!. Gara-gara terlalu banyak menyita waktu sama lo, gue jadi lupa caranya interaksi sama manusia!."

Gue menendang tumpukan buku itu, dan kamar gue jadi lebih berantakan dari sebelumnya. Tidak ada yang membantu membereskannya.

Tak lama, gue memutuskan untuk mandi. Mengisi air dalam bak hingga penuh. Kemudian melihat ke dalam bak tersebut,

lalu merendam kepala ini..

19 Mei, 2012

Sex, Ciuman, dan Bikini adalah Haram di Negaraku yang Tentram Ini.

Negara gue adalah negara terbaik di seluruh dunia. Masyarakatnya santun serta ramah tamah. Angka kriminalitas di sini sangat rendah sehingga orang tetap merasa aman saat berjalan sendirian, waktu tengah malam, dan di gang yang gelap. Gak ada yang bakal menjambret, bahkan membunuh. Plus, kita juga punya polisi terbaik, polisi terjujur di muka bumi ini. Semenjak lahir kita tidak pernah mendengar kata korupsi. Birokrat kita adalah pekerja-pekerja yang handal dan berdedikasi tinggi. Kita gak pernah mengalami bencana alam. Kita pun gak pernah mengalami bencana berskala nasional seperti pembunuhan etnis yang diakibatkan oleh sekelompok orang yang berusaha memaksakan kehendak memegang kuasa dalam dunia perpolitikan. Kita adalah muslim yang berakhlak mulia. Kita tidak melakukan sex. Sex itu haram. Kita tidak berciuman. Ciuman itu haram. Kita pun melarang orang mengenakan bikini karena bikini adalah simbol dari kejatuhan martabat seorang perempuan. Bikini itu haram. Singkatnya, tinggal di negara ini berarti hidup di negara tertentram yang pernah ada.

Itulah kenapa kita harus paham, alasan kenapa bangsa kita mendadak marah saat seorang wanita asing - yang mempunyai image senang berbikini di atas panggung, memutuskan untuk menggelar konser besar berskala Internastional di Jakarta.

Kejadian penolakan terhadap wanita berbikini pun tidak hanya sekali terjadi. Kejadian serupa pernah terjadi saat Yayasan Putri Indonesia mengirimkan kontestannya : Artika Sari Devi mengikuti ajang Miss Universe di Thailand pada tahun 2005. Sontak berbagai ormas-ormas dalam masyarakat - yang merasa mempunyai andil besar dalam mengurus akhlak warganya, marah besar dan mulai menyerang kantor Yayasan Putri Indonesia saat itu. Tapi, lambat laun mereka pun "terdiam." Saat tindakan yang mereka lakukan tidak lagi mendapat dukungan dari masyarakat saat Artika pulang ke tanah air dengan title "kebanggan bangsa" karena berhasil masuk sebagai 15 kontestan terbaik dalam ajang bergengsi tersebut.

Berbeda halnya saat Nadine Chandrawinata memutuskan menjadi seorang kontestan Miss Universe tahun 2006. Di ajang tersebut dia menjadi aib bangsa!. Bahasa Inggrisnya acak-acakan!. Dan dia berbikini!. "Ya tuhan! Seharusnya dia mewakili negara kita, orang-orang kita, moral kita!." Gue yakin orang-orang udah menonton video yang memperlihatkan saat-saat Nadine menjawab sebuah wawancara dengan bahasa Inggrisnya, yang.. ya gitu deh..

Gue masih ingat, saat itu terdapat sebuah artikel surat kabar yang memberitakan bahwa Nadine akan dipenjara sesaat dia balik ke tanah air. Ok. bukan karena bahasa Inggrisnya yang acak-acakan itu, tapi karena dia menggenakan bikini.

Dan kamu tau?. Di sini, bikini itu haram.

Bikini dapat membuat pria memperkosa wanita, wanita memperkosa pria, wanita memperkosa wanita, pria mulai memperkosa sesama pria. Lebih buruknya, bikini dapat membuat ancaman di masyarakat - saat ormas-ormas mulai bergerak mem-flaming warganya untuk memboikot sebuah konser artis asing dikarenakan hobi berbikini di atas panggungnya itu. Oh, my mistake. They already did - udah kejadian.

Pendapat gue. Gaga, Artika, atau Nadine sebenarnya adalah pahlawan.Yang satu adalah seorang musisi besar berskala Internasional. Yang dua lainnya adalah mantan putri Indonesia - yang kita kenal mereka adalah wanita-wanita Indonesia briliant dan cerdas dalam pemikirannya. Mungkin mereka bukan pahlawan seperti Kartini, dan "lekukan tubuh" yang mereka umbar pun tidak merepresentasikan ideologi mengenai emansipasi wanita di negara ini. Tapi paling tidak "suara" yang mereka keluarkan di panggung Internasional telah dirasa mampu menyurakan seluruh aspirasi lapisan masyarakat dunia. Bicara soal "suara", memang sih Bahasa Inggris Nadine luar biasa beginner-nya. Terus kenapa? Bahasa Inggris bukan bahasa kita, kok. Kita pun masih mengerti apa yang dia bilang. Setiap hari, gue mendengar politisi berbicara di TV dalam bahasa Indonesia dan gue tetap aja masih gak paham apa yang mereka bicarakan.

Sulit melakukan sesuatu yang sudah ditetapkan sebagai norma di masyarakat. Kita hidup dalam norma yang sudah saklak harus kita pegang dan hormati sampai kita tua. Kemudian, kita ajarkan kembali kepada anak kita, anak kita terhadap cucu kita, cucu kita kepada anaknya, dan begitulah terus siklusnya.

Singkatnya. Jika memang berbikini di tempat yang salah adalah sesuatu yang menyinggung masyarakat di negara ini. Maka janganlah berbikini, janganlah mengumbar bagian pribadi ke orang-orang sehingga kita akan merasa hidup di negara tertentram yang pernah ada.

Eh, bentar.. bentar.. Kira-kira ada ormas yang marah gak yah kalau gue gambar bikini (pake program paint) di foto gue terus umbar ke pembaca blog gue?

Bwahahaha..

04 April, 2012

Cerpen : Lelaki dengan senyuman terjeleknya..


"Aku jatuh cinta setiap hari, kadang dua kali. Dan kamu tahu, menjadi aku, sungguh menyiksa."

Andhika menyeruput secangkir kopi, kopi Arabika yang dicampur dengan beberapa rempah-rempah pedas sebagai penambah rasa. Sesaat sebelum dia berhasil menyeruput kopinya, dia tidak sengaja menumpahkan sedikit cairan kopi ke baju putihnya. Dia segera mengambil tisu lalu mencoba membersihkan noda tersebut. Tentu saja, semakin dibersihkan, semakin melebar noda kopinya.

Menjadi seorang yang dicap ceroboh adalah satu dari berbagai masalah yang Andhika punya. Semua orang berkata, dia mempunyai senyuman terjelek. Teman-temannya tak pernah mau pergi makan dengannya, karena ketika dia tersenyum, mendadak hilang seluruh napsu makan mereka. Bahkan burung dalam sangkar peliharaan ayahnya pun mendadak berhenti berkicau sesaat setelah dia dilahirkan. Tetangga-tetangga yang datang untuk menjenguk bayi Andhika yang baru dilahirkan pun jijik saat melihat dia tersenyum. Bahkan orangtuanya pun begitu. Saking jijiknya, orang tuanya bahkan membiarkan bayi Andhika menangis sepanjang waktu setiap harinya.

Ketika Andhika beranjak dewasa, orangtunya selalu mencegah dia untuk tertawa, mereka mengambil seluruh mainan yang disukainya. Semenjak itu lah dia mulai bermain dengan teman-teman imajinasinya - Badut-badut yang lucu, serta berbagai pelawak yang tetap membuatnya tersenyum.

Di sekolah, Guru sengaja menempatkan Andhika di pojok kelas kemudian menaruh dua orang anak laki-laki tinggi besar duduk tepat di depannya, sehingga dia menjadi tidak terlihat. Walaw merasa terasingkan, Andhika gemar menulis berbagai cerita dalam buku agendanya. Cerita-cerita lucu. Terkadang karena saking lucunya, dia bahkan tertawa terbahak-bahak terhadap lelucon yang baru selesai dibuat.. Dan tentu saja, reflek, seluruh kelas menatap kaget ke arahnya yang sedang tertawa sendiri waktu itu. Tak lama, dia diminta keluar kelas oleh gurunya, karena telah membuat beberapa murid menangis, serta beberapa murid berteriak histeris akibat senyumannya

Saat pertama kali aku bertemu Andhika, Aku sedang menonton sebuah film horor Indonesia. Filmnya cukup hambar sehingga membuat seluruh penonton tertawa ala kadarnya. Tapi seseorang yang duduk di sampingku tertawa dengan suara paling keras. Saat aku mencoba menoleh, mendadak aku gemetar ketakutan karena seluruh kehororan dari film horor yang kutonton itu ditampilkan langsung lewat muka pria yang sedang tertawa di sampingku waktu itu. Suara tawanya besar membahana, tapi tidak diiringi dengan wajah senang, melainkan wajah orang sangat depresi. Tentu saja, aku sebagai seorang kolektor 'action figure' monster-monster menyeramkan segera ingin berteman dengannya. Setelah film selesai, dia terlihat duduk menyendiri di sebuah kafe di dalam gedung bioskop itu, dia ditempatkan oleh petugas kafe di pojokan tersembunyi di mana 'wajahnya' tidak akan terlihat oleh pengunjung kafe lain. Kemudian aku mendekatinya lalu bertanya apakah aku bisa duduk dengannya. Dia cukup terkejut, tetapi cukup senang karena mempunyai teman ngobrol. Semenjak itu, kita selalu bertemu di tempat yang sama untuk berbincang-bincang.

Andhika tidak pernah mempedulikan senyumnya sebagai suatu masalah, sampai akhirnya hormon menyuruhnya untuk mulai merasakan, cinta.

Setiap hari, dia selalu bertemu dengan berbagai wanita yang dia suka di mana pun dia berada: ketika sedang berjalan di trotoar, ketika sedang berbelanja di Indomaret, atau ketika sedang jogging di Sabuga - ITB. Kadang, dia berhasil mendapatkan nomor wanita-wanita yang dia temui tersebut. Kadang setelah mereka berbicara berjam-jam di telpon mengenai berbagai bahasan menarik, mereka biasanya memutuskan untuk bertemu. Dalam setiap pertemuannya, Andhika selalu berusaha untuk tidak tersenyum. Sebelum sampai akhirnya sang wanita pun berkata, "Kamu mau gak jadi pacarku?". Mendengar pertanyaan tersebut wajah Andhika mendadak berubah senang, lalu ia tersenyum..

"Lalu apa yang terjadi setelahnya?" tanyaku. "Biasanya wanita kalau udah liat aku tersenyum, dia bakal segera minta izin ke toilet. Dan tidak pernah kembali lagi.."

Andhika menjelaskan lebih jauh bahwa dia sebenarnya masih sayang dengan wanita-wanita yang pernah ditemuinya itu, bahkan rasa sayang itu tetap ada walawpun usaha menghubungi mereka melalui telepon atau SMS tidak pernah lagi mendapat respon olehnya. Beberapa sengaja mengganti nomornya, beberapanya lagi beralasan pindah ke luar kota.

"Tapi apakah kamu tau? Aku menemukan sebuah cara untuk menghilangkan perasaanku ini terhadap wanita-wanita tersebut." Andhika berkata sembari mengangkat tangan kanannya kepada seorang pramusaji untuk meminta segelas kopi Arabika lagi, sedang tangan kirinya sibuk membersihkan noda kopi yang tumpah di baju dari kopi sebelumnya. Pramusaji itu datang tanpa mau melihat mukanya.

Andhika memberitahuku bahwa dia selalu membawa hape berkamera dalam sakunya. Dengan begitu, dia dengan mudah mengambil gambar wanita-wanita yang pernah ditemuinya tersebut. Hari ini dia bercerita bahwa sehabis jogging dari Sabuga selama satu setengah jam yang membuat kakinya bergetar hebat itu. Dia segera pergi ke rumah lalu 'memuaskan diri' dengan foto-foto wanita yang pernah mencampakannya tersebut.

Tentu saja, tidak ada perasaan bersalah sama sekali. Kadang satu tangannya terhenti ketika sedang 'melampiaskan hasratnya', sesaat setelah dia terkenang kembali dengan berbagai pengalaman buruk yang pernah dialaminya dengan wanita-wanita tersebut. Semakin pahit pengalamannya, semakin kuat dia memeras alat vitalnya. Hal tersebut membuatnya menjadi sulit terkontrol karena sering kali dia memuaskan diri hingga lima kali di pagi hari sebelum dia berangkat beraktifitas. Jika suatu hari dia bertemu kembali dengan seorang wanita, dia tidak akan pernah lupa mengambil fotonya lalu pergi ke toilet umum untuk melampiaskan seluruh hasratnya di sana. Tentu saja, tidak ada perasaan yang tercurahkan saat melihat foto-foto tersebut, otaknya seperti sudah tersistem untuk berfikir bahwa wanita-wanita tersebut adalah musuh terburuk yang pernah dikenalnya. Dia lalu melampiaskan seluruh kemarahannya dalam bentuk 'pelampiasan hasrat' yang semakin hari-semakin mengerikan.

Aku langsung memegang pundaknya lalu berkata, "Cukup.. jangan kamu lakukan lagi."

Pagi ini, orang tua Andhika meneleponku untuk memberitahu sebuah kabar buruk.

Andhika telah jatuh cinta dengan seorang perempuan yang ditemuinya di bioskop. Setiap hari, mereka terdengar bercakap-cakap di telepon berjam-jam lamanya. Si perempuan jatuh cinta dengan Andhika walaw dia belum pernah bertemu dengannya. Dia suka dengan berbagai lelucon yang dibuat olehnya. Sampai suatu waktu akhirnya wanita itu pun memintanya bertemu. Andhika khawatir jika mereka bertemu, saat itu akan menjadi akhir dari pertemuan mereka. Akhirnya, Andhika berterus terang kepadanya bahwa orang-orang membencinya karena mempunyai senyuman yang jelek. Awalnya perempuan itu berfikir Andhika sedang bercanda, tetapi Andhika merubah nada bicaranya. "Aku serius." Kemudian berhari-hari kemudian mereka melanjutkan hubungan melalui telepon saja.

Suatu malam, si perempuan meminta untuk bertemu dengan Andhika. Dengan berbagai pengyakinan kepada Andhika. Dia ingin menjamin bahwa dia akan tetap sayang terhadapnya bagaimanapun kondisinya. Andhika berusaha menaruh sedikit rasa yakin terhadap perempuan di telepon itu. Mungkin dia berbeda dari kebanyakan wanita yang pernah ditemuinya selama ini.

Mereka akhirnya bertemu Selasa malam di sebuah restoran seafood di jalan Braga yang belum pernah Andhika kunjungi sebelumnya. Mereka duduk berhadapan di sebuah meja di restoran yang mempunyai dinding yang berwarna warni. Malam itu sangat indah dan Andhika berusaha keras untuk tidak tersenyum. Karena penasaran, Sang wanita berusaha memancingnya untuk tersenyum. Tapi, Andhika tidak tersenyum sama sekali. Sepanjang percakapan, yang dilihatnya hanyalah wajah datar dari Andhika. Sampai akhirnya di akhir percakapan dia berkata, "Maukah kamu jadi pacarku?" Andhika mendadak tersenyum. Saat dia sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya. Dia menjadi khawatir. Dia segera melihat ekspresi sang perempuan tersebut mendadak sedih sambil menyapu air mata di mukanya, sambil berkata "Tidak ada yang aneh dengan senyumanmu. Semua baik-baik saja." dan dia pun meyakinkan Andhika bahwa dia akan tetap mencintainya. Andhika menangis terharu. Tetapi air matanya pun semakin mengalir deras, saat sang perempuan itu meminta izin untuk pergi ke toilet.

Dia tidak pernah kembali lagi..

Untungnya, Andhika telah mengambil foto perempuan itu sebelumnya.

Sepulangnya dari restoran itu, dia mulai melampiaskan amarahnya dengan cara melampiaskan hasratnya sembari melihat wajah wanita tersebut dari hape-nya. Karena terlalu keras, tak sengaja kukunya menggores cukup dalam dan menimbulkan luka menganga lebar di alat vitalnya. Tapi yang terjadi, dia tetap melanjutkan kegiatan tersebut sembari mengerang kesakitan dari luka itu. Tak lama, dia pun terdiam setelah merasa terpuaskan saat cairan mani yang tercampur dengan darah kental keluar dengan derasnya. Tapi, yang terjadi adalah dia tidak menjadi benci dengan wanita itu, melainkan dia semakin cinta. Besok malamnya, dia mencoba melampiaskan diri dengan cara yang berbeda. Dia membakar alat vitalnya menggunakan lilin. Hasilnya, berkali-kali lipat dia semakin mendapatkan kepuasan dari melakukan hal tersebut.

Kemarin malam, Andhika membuat ikatan tali dari ikat pinggang milik ayahnya, dia menggantungnya di atas pintu, lalu mengikatnya di lehernya. Dia kemudian menggantung diri di pintu sembari melampiaskan hasratnya. Ibunya yang sedang terlelap, terbangun saat mendengar suara tendangan keras pada pintu di dalam kamar Andhika. Saat dia masuk, dia menemukan Andhika telah meninggal dengan cairan mani yang baru saja keluar menciprati layar hape yang sedang menampilkan foto seorang wanita pujaannya. Di situ lah Ibunya terkejut saat melihat wajah Andhika.

Tersenyum begitu indahnya.

06 Maret, 2012

Please Allow Me To Introduce Myself. My Name Is...

12 Desember, 2011

Menggalau..

Menggalau adalah suatu kata imbuhan dalam Bahasa Indonesia yang berarti "menjadi pusing".

Tiga minggu menjelang akhir tahun 2011. Dan sekarang gua terdampar sedih di dalam kamar, tersadar bahwa gua belum melakukan banyak hal selama ini. Gua masih punya tiga minggu untuk mengubah semuanya. Tetapi yang menjadi masalah sebenarnya adalah sikap gua yang suka, "menunda".

Setiap. Detik. Setiap. Waktu. Gua selalu sadar bahwa gua harus segera menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk dan segera berhenti bermain game, atau mungkin berhenti meluangkan waktu berlebih men-streaming berbagai video di Youtube.

Akan tetapi, setiap kali gua dihadapkan pada suatu pilihan. Selalu saja ada alasan untuk terus menunda. Rasaya gua sudah mencapai kuota, di mana akhirnya gua akan berkata. "Baik, gua telah banyak membuang waktu. Sekarang dan ke depannya gua hanya akan melakukan hal-hal penting saja!."



Apakah waktu itu akan benar-benar datang, atau hanya akan berakhir dengan fakta bahwa gua hanya akan terus duduk di depan layar komputer selama berjam-jam lamanya sembari menunggu Youtube memutar playlist video kedua, ketiga, atau keempat yang sebentar lagi akan diputar?

Kadang, gua sendiri sadar bahwa gua sudah merasa ahli dalam hal "menunda" karena memang kenyataannya adalah gua telah membangun 'sikap' ini cukup lama. Gua bukan seseorang yang dilahirkan sebagai pemalas, gua hanya seorang yang sangat lemah dalam menghadapi pemikiran bahwa gua sebenarnya takut akan, kegagalan.

Gua banyak memperlihatkan sikap mengelak akhir-akhir ini. Kemaren gua mengakhiri hari gua dengan memilah, dan menyingkirkan hal-hal yang gua anggap tidak penting. Hari ini berjalan lebih lambat daripada kemarin, tapi paling tidak gua sudah berusaha membuat suatu jadwal prioritas, mengenai apa saja yang harus dilakukan.

Memang telat dan bodoh jika gua harus jujur ke kalian bahwa gua baru melakukan hal begini di usia yang hampir seperempat abad ini.

Bagaimanapun juga, tiga minggu menjelang akhir tahun 2011 dan sekarang gua terdampar sedih dalam kamar memikirkan sikap penunda gua, dan

menggalau..

24 November, 2011

Kenapa Laki-laki Menolak Menonton Twilight?

Selama beberapa minggu ke belakang, gua kerap mendapat ajakan beberapa teman perempuan untuk menonton Breaking Dawn. Kalau bukan karena 'gua dibayarin nontonnya', gua bakalan nolak deh nonton film itu sampai kapan pun juga.
"Kalian gak bisa memaksa Kami menonton film itu, karena Kami akan menolak, tetapi kalau kalian menyodorkan tiket gratis itu kepada Kami secara langsung, Kami bakalan nyerah juga sih..."
--

Novel Dracula karya Bram Stoker (1897) dikenal sebagai sebuah karya klasik yang menjadi dasar cerita vampir di masa modern. Novel tersebut mengambil unsur legenda vampir dalam bentuk manusia serigala serta menggabungkannya dengan konsep keabadian serta sistem masyarakat zaman Victoria. Kesuksesan buku itulah yang kemudian memunculkan genre vampir yang tetap populer hingga saat ini, seperti yang biasa kita lihat dalam buku, film, permainan video, dan acara televisi.

Novel Dracula, karya Bram Stoker (1897)
--

Selama 111 tahun setelah novel Dracula tersebut diterbitkan dan film Nosferatu  pada tahun 1922 ditayangkan. Laki-laki mulai diajarkan untuk menaruh rasa takut dan hormat terhadap Vampir. Bagi mereka, vampir atau lebih spesifiknya Dracula adalah tokoh mitologi yang gagah perkasa yang sering digambarkan berbalut pakaian rapi dan mewah, tetapi hidup dengan menghisap darah makhluk hidup lain, serta mampu menjelma menjadi : serigala, kelelawar, atau gumpalan asap.

"Nah, dalam pandangan laki-laki yang begitu tuh baru namanya, Keren!."

Selama ini, kita telah melihat berbagai macam cerita dan film vampir yang menyeramkan, gagah dan misterius, bahkan kadang mempunyai kekuatan yang mampu membuat semua orang ketakutan.

Hell Yeah!


Sampai vampir yang ini datang..

--

Vampir dan Sekolah

111 tahun kemudian, di sebuah zaman di mana 'hormon dan pubertas' adalah suatu faktor penting dalam menciptakan selling market pada suatu produk. Kedigjayaan mengenai makhluk brutal bertaring tajam yang sudah dibangun hampir satu abat lamanya pun mulai ternoda.

Di dalam film maupun novel mengenai mitologi vampir. Mereka selalu digambarkan sebagai sosok yang jauh dari kehidupan sosial. Mungkin ini terjadi, selain karena mereka adalah makhluk pemangsa, mereka juga terkurung sepanjang hari di dalam peti matinya.

Berdasarkan alasan tersebut, apa ada yang bisa menjelaskan ke gua, kenapa kok tiba-tiba ada sekelompok vampir bermuka pucat, berkeliaran siang hari tanpa terbakar, lalu duduk di dalam kelas Biologi, kemudian menjalin kisah cinta dengan manusia - yang seharusnya adalah mangsanya?.

Secara logika, seorang remaja, baik itu manusia ataupun vampir, seharusnya mereka lebih menyukai kegiatan di luar yang lebih menyenangkan, dibanding harus datang dan duduk di dalam kelas setiap hari, kemudian mengulang pelajaran yang sama terus-menerus selama satu abad lamanya.

The Twilight Saga adalah sebuah seri yang secara tidak langsung memaksa laki-laki untuk melupakan kebrutalan seorang vampir - Dengan cerita yang disajikan dengan bumbu yang rasanya terlalu 'kemanisannnnn' (bahasa engresnya : so sweeetttt!).

Stephanie Mayer telah menciptakan mitos baru mengenai seorang vampir, kemudian menghapus seluruh mitos vampir lama dalam karyanya, sehingga bukunya akan terkesan jauh lebih menarik dan berbeda, dibanding para kompetitornya - yang sebagian besar masih menyajikan cerita vampir yang dikemas 'berdarah' seperti yang telah dilakukan penulis-penulis lain sebelumnya.

--

Vampir dan Cinta

The Twilight Saga adalah sebuah contoh serial vampir yang seharusnya tidak dibuat karena ketidakmasukakalannya. Vampir bukanlah makhluk yang mempunyai perasaan ataupun jiwa, melainkan adalah makhluk yang menakutkan dan brutal!.

Mengambil setting di lingkungan sekolah di mana seorang yang berbadan kurus dan bermuka pucat ternyata mempunyai kesempatan sangat besar untuk mendapatkan hati para perempuan cantik di sekolahnya. Bagian inilah yang kemudian bagi laki-laki dianggap sebagai sesuatu yang sangat menjengkelkan dan sangat tidak masuk akal.

Bagaimana mungkin seorang yang bermuka pucat, mengerikan dan mempunyai bau 'mayat' yang menyengat bisa mendapatkan perempuan cantik dengan mudahnya?.

"Bagaimana caranya?,"

Lalu gua berfikir kembali, "Apakah mungkin ini karena faktor umur? Sehingga Edward Cullen mudah mendapatkan perempuan?."

Saat gua mengetik kata kunci 'Edward Cullen Age' di Google. Gua mendapat informasi kalau dia dilahirkan pada tanggal  20 Juni 1901. Yang berarti umurnya saat ini adalah 110 tahun.

"Oh, pantes..."

Laki-laki di mana pun, jika mereka telah menginjak masa pubertas ke-dua di usia 50 tahun - yang ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan. Walaw dengan keriput di wajah atau ketidakmampuan ereksi sekalipun, dalam jangka waktu tersebut, secara tidak langsung 'Kami' tersebut telah membangun sebuah kemampuan unik untuk memikat para perempuan muda dan cantik.

Di usianya yang ke-85 tahun, kita semua tahu, kemampuan 'Bloodsucking' apa yang pria ini miliki..

Dalam hal ini, Edward Cullen adalah vampir berumur 110 tahun. Dengan umur segitu, dia pastinya sudah sangat berpengalaman dalam hal pikat-memikat hati perempuan, bukan?

--

Kalau kalian bertanya, "Apakah Kamu patah hati dengan karakter fiktif yang mempunyai banyak pengemar wanita?."

"Ya!."

14 November, 2011

Apa yang Tidak Boleh Kamu Lakukan dengan Kartu GSM-mu.

Dalam upaya memerangi terorisme dan  kejahatan telekomunikasi, pada  tahun 2006 Pemerintah Indonesia menetapkan sebuah peraturan yang mengharuskan seluruh pengguna kartu Prabayar mendaftarkan nama dan alamat lengkapnya melalui SMS. Setelah peraturan tersebut diterapkan, orang tidak dapat lagi sembarang membeli sebuah SIM Card tanpa menggunakan tanda pengenal. Mereka baru bisa menggunakannya setelah nomor tersebut didaftarkan. Waktu itu, gua menganggap peraturan tersebut sebagai hal yang konyol, mana mungkin regulator di negara ini bisa buat peraturan yang benar, alhasil gua pun mendaftarkan kartu itu menggunakan alamat dan nama palsu, hanya untuk mengejek.

Lima tahun kemudian, tepatnya hari ini, ada sedikit masalah dengan kartu SIM gua - sudah beberapa minggu kartu gua sulit menerima atau pun menjawab panggilan. Sebenarnya bisa saja gua membeli kartu SIM baru, tapi yang menjadi permasalahannya adalah nantinya gua harus memberitahu semua orang nomor gua yang baru. "Merepotkan." Jadi, gua pun memutuskan untuk pergi ke salah satu pusat pelayanan telekomunikasi untuk meminta penggantian kartu tadi siang.

Setelah menunggu selama satu jam lebih memandangi papan indikator digital yang menunjukkan nomor pelanggan yang sedang dilayani, papan itu akhirnya menunjukkan nomor antrian gua.

Gua lalu disapa oleh seorang petugas ibu-ibu yang, karena telah seharian penuh menanggani berbagai keluhan pelanggan, terlihat bermuka sangat membosankan. Gua segera menjelaskan permasalahan kartu SIM gua, yang kemudian dituliskannya ke dalam komputer. Tak lama lagi dengan datar, dia meminta tanda pengenal gua. Setelah mengecek kartu yang gua berikan, dia lalu berkata, "Maaf informasi di kartu anda tidak cocok dengan data yang ada di komputer kami."

Tiba-tiba gua sadar bahwa gua sedang berada di dalam masalah besar - Bukan hanya karena gua sadar gua pernah mendaftarkan kartu tersebut dengan nama yang salah, tetapi juga gua lupa nama palsu apa yang dulu pernah gua daftarkan. Dengan jujur gua pun bertanya, "Maaf, nama siapa yang tertera di komputer?."

Dia lalu memutar layarnya ke arah gua. Dan gua kemudian membacanya dengan penuh horror :

Nama                  : Brad Pitt
Tempat lahir        : Cirebon
Alamat                : Jl. Sana Gang Sini no. 3

"Kenapa tidak menggunakan nama yang benar?," petugas bertanya.
"Kartunya... uhmmm... punya kakak saya," jawab gua.
"Berarti dia yang harus datang ke sini untuk komplen," jelas dia
"Nggak bisa... Umm.. dia lagi... di Russia," Gua nggak tau harus bilang apa lagi.

Mungkin dia sedang lelah atau mungkin nggak mau membuat gua terlihat semakin bodoh, dia hanya memberikan gua secarik kertas.

"Silahkan bapak buat surat pernyataan di sini bahwa kartu SIM ini adalah milik bapak," suruh dia.
"Apa yang harus saya tulis?," tanya gua.
"Akan saya dikte".

Kemudian gua menulis sebuah paragraf yang terasa sebagai sebuah paragraf terpanjang yang pernah gua tulis:

"Dengan ini saya menyatakan bahwa kartu SIM ini adalah milik saya, dan Brad Pitt adalah benar-benar kakak saya..."

28 Juli, 2011

Demam Tiket Promo

Tahun 2005 menjadi awal perkenalan gua dengan maskapai berbiaya rendah. Saat itu, setiap kali menonton televisi, setiap kalinya gua melihat berbagai iklan tentang promo tiket murah bergentayangan di sana. Waktu itu gua sempat berfikir, “Emang mungkin ya? Ke Bali modal Rp99000 doang?.”

Gua bukan orang yang mudah percaya dengan iming-iming iklan seperti itu. Kadang, promosi semacam ini hanya membawa manis di awal saja, tapi terasa pahit di akhir. Jadi untuk amannya, gua selalu menunggu respon dari masyarakat yang telah mencoba layanan mereka, lalu menyebarkan opininya melalui berbagai forum di internet terlebih dahulu.

Menurut gua, melakukan cara seperti itu lebih masuk akal aja dibanding menumbalkan diri termakan rayuan iklan-iklan itu.

Dari berbagai opini-opini yang beredar, kebanyakan dari mereka mengeluhkan pelayanan setengah hati yang diberikan oleh maskapai-maskapai itu. Sebagian dari mereka bahkan menggambarkan suasana kelam sesaat setelah mereka memasuki pesawat.

“Buset, gue mau ambil tempat duduk di samping jendela aja, mesti rebutan segala!.”

Pada waktu itu, maskapai-maskapai yang beriklan tidak memberikan nomor bangku kepada penumpang saat check-in. Mereka masih menerapkan prinsip, "Siapa cepat dia dapat."

Saat membaca opini-opini itu. Gua sempat berfikir, menaiki maskapai berbiaya rendah berarti sama saja dong seperti menaiki sebuah bis kota.. bedanya?. Bis kota yang ini bisa terbang.

Dari bermacam respon yang beredar, gua pun akhirnya bisa membuat suatu kesimpulan, bahwa secara garis besar bisnis penerbangan murah merupakan suatu bisnis yang cukup cerah di masa depan.

Mana mungkin ada orang yang pernah kecewa dengan suatu layanan kemudian menyebarkan kekecewaannya ke media masa, tetapi masih tetap menggunakannya lagi di lain kesempatan?. 

***

Waktu gua berumur 20 tahun tepatnya bulan Februari 2007 lalu. Untuk pertama kalinya gua pergi ke pulau dewata, Bali. Bali menjadi pilihan gua, karena.. Selama dua puluh tahun hidup, gua sama sekali belum pernah ke sana. :)

Selain itu, hal yang membuat gua memutuskan untuk pergi ke sana adalah rasa penasaran yang amat sangat terhadap pulau itu.

Banyak orang berkata, sekalinya kita menapakkan kaki di sana, sekalinya kita akan terkenang terus untuk menyinggahinya lagi di lain kesempatan. Pada perjalanan itu untuk pertama kalinya gua menggunakan maskapai berbiaya rendah.

***

Untuk mendapatkan tiket promo. Biasanya gua menggunakan prinsip: Wait and See. Banyak kok promo “gila” dari berbagai maskapai domestik setiap tahunnya. Asal satu, kita mau sabar menunggu.

Traveling adalah suatu sikap aktualisasi diri terhadap management perencanaan. Dengan perencanaan yang matang, tentunya akan menghindari kita dari perasaan kecewa yang amat sangat saat kita sedang berpergian nanti. Fleksibilitas terhadap berbagai pilihan menjadi pilihan gua dalam merencanakan suatu perjalanan. Jika memang perjalanan menggunakan pesawat itu masih terasa mahal. Kita bisa kok mencoba alternatif murah lain. Pakai Kereta Api Ekonomi, misalnya?.

Kira-kira satu tahun yang lalu gua bersama teman-teman kampus seangkatan melakukan eskursi ke daerah Karang Sambung, Kebumen, Jawa Tengah. Untuk mencari transportasi yang bisa menampung ke-80 mahasiswa-mahasiswa itu, kita pun akhirnya mem-booking satu gerbong Kereta Api Ekonomi dari Stasiun Kiara Condong, Bandung, Jawa Barat.

Hmm.. ya itu adalah pertama kalinya gua pergi menggunakan Kereta Api Ekonomi jarak jauh.

Susunan bangku dan gerbong kereta Ekonomi tidak jauh berbeda dengan susunan Kereta Api kelas Bisnis. Perbedaan hanyalah: yang satu ada kipas angin, yang satunya tidak ada. 

Banyak hal yang gua lakukan buat mendinginkan suhu dalam gerbong kereta yang sangat panas waktu itu.


  • Pertama, gua kipas-kipas pake buku, tapi kalau kelamaan.. “Halah, tangan pegel juga neh!."
  • Kedua, gua buka jendela.. Ide membuka jendala sebenarnya cukup masuk akal melihat pengapnya gerbong saat itu.

Tapi..

Harap-harap mendapat hembusan angin semilir dari luar kaca, eh malahan angin panas musim kemarau yang  tersedot dari luar masuk ke dalam. Beberapa saat sebelum kaca dibuka, gua cuma butuh satu buku untuk mendinginkan kepala, tapi setelah dibuka..

Gua jadi butuh dua.. 

Selain keadaan kereta yang pengap dan dipenuhi banyak penumpang, kondisi tersebut diperparah dengan pedagang dan pengamen yang selalu keluar masuk setiap saat. Sadar akan kondisi tersebut berbahaya, gua pun memutuskan menjaga seluruh barang bawaan dari tangan-tangan jahat yang siap merampasnya kapan saja..

Sampai akhirnya kereta berhenti di salah satu stasiun, dia berhenti cukup lama di sana..

Di situlah gua mulai merasa bosan karena telah duduk berjam-jam lamanya. Sampai akhirnya ada seseorang pengamen masuk ke dalam gerbong tempat gua berada. Dia ber-make-up tebal, berambut panjang, tapi berjakun..

Karena merasa terganggu telah memberikan uang seribu terhadap seluruh pengamen yang telah mengamen dari tadi. Satu orang teman akhirnya memutuskan untuk berpura-pura tidur sambil menggunakan kaca mata hitam pekat miliknya.

Selesai sang pengamen tersebut membawakan sebuah lagu dengan iringan kencringan yang terbuat dari tutup botol besi yang dipaku pada sebuah kayu bekas. Dia pun lantas berkeliling meminta bayaran kepada penumpang di dalam.

Gua beserta ketiga teman gua segera memberikan “uang damai” seketikanya dia meminta bayaran di samping kita.

Ternyata, setelah kita memberinya uang, dia tidak lantas pergi melainkan malah kembali lagi bernyanyi sambil bergoyang erotis "TEPAT" di samping kita berempat.

Kita kaget!

Apalagi saat bernyanyi itu, dia dengan sengaja menggerak-gerakkan tangannya turun naik menjamah hampir seluruh badannya: dada, perut, bahkan ketiaknya pun berhasil dipegang-pegang olehnya.

Kondisi kereta yang panas dan pengap membuat make-up yang awalnya merias seluruh wajahnya menjadi luntur seiring dengan menetesnya keringat-keringat dia yang mulai berkucuran.

Melihat permaknya yang luntur. Kita bertiga takut.. kita semakin takut..


"Ni, orang kenapa sih?." tapi pada saat yang sama, gua pun memperoleh jawaban (secara tidak langsung) saat menoleh ke seorang teman yang sedang berpura-pura tidur menggunakan kacamata hitamnya itu.

“Aih, si abang tidur aja.. Eke lagi nyanyi nih. Kok didemin aja, mana bayarannya?,"

Dia tetap diam dan pura-pura tidur.

"Ya udah eke yang bayar yey, tapi pake ciuman.”

Dan diciumlah dia..

Tepat di bibirnya..

25 Juli, 2011

Fruit Ninja : Menjadi Ninja Pembenci Buah



Untuk menggambarkan penampakan game ini ke dalam kata-kata memang tidak mudah. Tapi secara visual game ini cukup unik, gameplay yang disajikan juga belum pernah orang lihat sebelumnya. Ide-ide yang dituangkan terasa sangat orisinal untuk dimainkan.

"Soal jalan cerita?".

Gini gampangnya :
  • Lo seorang Ninja,
  • Lo benci buah
Terus, Sensei lo iseng deh ngelempar buah-buahan yang baru dia petik tepat ke muka lo. Karena benci, akhirnya dengan samurai di tangan, Lo dengan sigap memotong semua buah yang datang menghampiri dengan cara men-swipe layar dengan jari tepat di buah-buahan tersebut - Tapi hati-hati, karena saking isengnya, si Sensei bukan cuma ngelempar buah aja, melainkan juga granat! - Jangan sabet granat ini kalau nggak mau game over.

Salah satu faktor adikitf dari game ini adalah saat kalian dibuat penasaran untuk memecahkan high score yang dibuat oleh teman atau kalian sendiri.

Dijamin buat kalian ketagihan. Kalau ternyata kalian ga suka?. Sabet deh nih muka gua..

*** 



14 Juli, 2011

Pecha Kucha - My Hosting Experiences in Bandung (Bagian 1)

Udah lama nggak nulis di blog. Karena dorongan teman-teman, akhirnya gua pun memberanikan diri untuk berbagi pengalaman unik lainnya lagi.

"Hmm.. gua masih malu-malu nih.. Jadi nyapanya dari belakang aja ya?"

"Halo semua!"
--

Pengalaman berpartisipasi dalam acara Couchsurfing Indonesia Festive (CSIF) tahun lalu, cukup menyimpan banyak kenangan manis mengenai arti suatu persahabatan yang terjalin antar sekumpulan warga Bandung yang berhasil memukau warga Jakarta selama beberapa jam waktu itu.

Couchsurfer Bandung, CSI Festive 2010, Monas - Jakarta
--

CSIF adalah cara tahunan yang diselenggarakan oleh komunitas Couchsurfing (CS) Indonesia. Pada event tersebut dipertemukan anggota-anggota CS dari berbagai daerah dalam suatu gathering nasional di salah satu kota yang ditunjuk menjadi host.

Untuk tahun ini giliran Jakarta dan Bandung lah yang mendapat kesempatan menggelar acara tersebut.

Menjadi suatu tantangan tersendiri sebenarnya untuk CS Bandung, mengingat ini pertama kalinya Bandung menjadi host acara tersebut, selain itu, tantangan besar lainnya adalah mengumpulkan para anggota yang sebagian besar terdiri dari para mahasiswa yang hidup dalam segala keterbatasannya.

“Eit.. Eit.. Jangan salah!”.

Ternyata mempunyai panitia inti yang terdiri dari para mahasiswa mempunyai keuntungan tersendiri, lho. Dalam setiap rapat yang diadakan, mereka cukup aktif memberikan argumen serta pendapatnya.

Selain itu, sang moderator pun tidak perlu memberikan banyak masukan, hanya sedikit arahan, dan mereka pun segera mengerjakannya, tanpa perlu banyak terjadi perbedaan pendapat yang akhirnya malah memperkisruh keadaan.

--

Rangkaian acara CSIF 2011 berlangsung selama 11 hari. Dimulai di Jakarta dan diakhiri dengan Persami di Ranca Upas, Ciwidey.


Mengusung tema : Berani Berbagi. Komunitas ini terlihat mulai berani muncul ke permukaan untuk menyebarkan misi mereka sebagai suatu organisasi non-profit, yang bertujuan untuk menyebarkan kebaikan kepada orang asing yang sedang berpergian ke suatu tempat dengan memberikannya sebuah couch (sofa)..

"Sofa ?"

--

Bagi yang belum tau apa itu CS?. CS adalah suatu komunitas yang berisi sekumpulan orang yang memiliki misi untuk menyediakan kebaikan kepada orang yang tidak dikenal dalam bentuk akomodasi gratis saat mereka mengunjungi suatu kota atau negara.

Katakanlah gua sedang berpergian ke Padang, tapi ternyata gua lebih memilih untuk tinggal di rumah warga dibanding di penginapan lainnya. Dengan menjadi anggota komunitas tersebut gua bisa "memohon" untuk bisa tinggal di rumah sembarang warga - yang juga ikut di komunitas tersebut. Dengan mengirimi mereka sebuah email permohonan tinggal bernama "couchrequest".

Surfer -- Orang yang mengirim "couchrequest", biasanya telah mengirim email tersebut beberapa minggu sebelum kedatangannya.

Tapi, sebagai surfer, kita pun harus tau. Bahwa keputusan tinggal di rumah orang tersebut adalah MUTLAK keputusan mereka. Mereka bisa menolak, atau bahkan TIDAK membalas couchrequest kita sama sekali.

Kalau memang seperti ini kejadiannya, gua sih berfikir realistis aja.

“Masa sih mau jalan-jalan, tapi nggak siapin celengannya dulu kalau emang harus berakhir di penginapan?”.

--

Dari berbagai acara yang diselenggarakan di CSIF kemarin, ada satu acara yang menarik perhatian gua.

-----

Couchsurfing Share Learn Day, 28 Juli 2011


Couchsurfing TSLD
Couchsurfing Teach Share Learn Day (TSLD) adalah satu dari berbagai rangkaian acara pada CSIF kemaren. Acara tersebut diselenggarakan di CCF (Center Culturel Francais) , Bandung - Suatu tempat untuk mempelajari kebudayaan Perancis yang dikelola langsung oleh Kedutaan Besar Perancis di Indonesia

Dalam acara tersebut diselenggarakan suatu acara presentasi menarik yang disajikan dalam format PechaKucha 20x20.

--

Awal kali perkenalan gua dengan PechaKucha 20x20 adalah saat gua menghadiri PechaKucha Night di Labo The Mori, Bandung tahun lalu.

Nggak seperti saat kita mendengarkan presentasi MLM ataupun sidang yang membosankan. Topik yang dibawakan dalam jenis presentasi ini cukup beragam, meliputi : fashion, fotografi, teknologi, maupun arsitektur.

PechaKucha semakin mendunia dan mulai menjadi trend bagi seseorang untuk menjelaskan suatu ide ke dalam sebuah presentasi.


“Terus menariknya di mana?”.

PechaKucha 20x20 adalah suatu format presentasi sederhana di mana ditampilkan 20 slide gambar, yang setiap slidenya dipresentasikan dalam waktu 20 detik. Gambar akan bergerak secara otomatis, dan para presenter harus menjelaskan ide dari gambar yang sedang ditampilkan saat itu.

--

Format presentasi tersebut diciptakan oleh dua orang arsitektur asing yang tinggal di Jepang. Alasan mereka menciptakan format presentasi ini adalah karena mereka merasa bosan saat harus mendengarkan presentasi para arsitektur yang cukup panjang dan menyita waktu.

"Because architects talk too much! Give a microphone and some images to an architect - or most creative people for that matter - and they'll go on forever! Give powerpoint to anyone else and they have the same problem".

Contoh presentasi PechaKucha yang gua ambil dari situsnya di www.pecha-kucha.org/

--- 

Just Don't Do It!
 
--

My Work in Mexico


--

Beberapa minggu sebelum acara diselenggarakan. Gua mendapat sebuah e-mail berisi undangan untuk hadir di acara tersebut, tanpa berfikir panjang gua pun segera meng-iya-kan setelah melihat siapa presenternya dan apa topik yang akan mereka bawakan :

1. Anggie Retno Sari - CouchSurfing in Portugal
2. Ika Wulandari - Lost in Korea
3. Toton Suhartanto - Traveling Australia
4. Erick Ady Novendra  - Vietnam, Land of Rider
5. A.Pandu - Hosting Experiences in Bandung
6. Yudhinia Venkanteswari - Jalan-jalan Hemat ke Eropa
7. Sufi Hamdan Mazida - CouchSurfing in Malang in 20 Movie Titles
8. Aline Christian - Eastern Europe
9. Anton Tirta - Gendong Cepot Kemana-mana
10. Riyanni Djangkaru [Divemag] - This is why we Dive
11. Fitriavi Nuriman [QM Financial] - Financial Planning for Traveler
12. Hafidz Novalsyah [National Geographic Traveler] - Photo Story – Rendezvouz @ Walidwipa
13. Yusuf [Maranatha Toastmasters Club] - Public Speaking
14. Sunny [Makko.co] - Travel Time Killing by Reading Online Comic

"Eh.., Bentar..bentar.. kok kayaknya gua kenal ya siapa presenter nomor lima??".. hehe

--

Judul presentasi yang gua presentasikan waktu itu adalah My CS Hosting Experiences, saran itu datang dari seorang teman baik beberapa minggu sebelum acara diselenggarakan.

“Daripada nyeritain pengalaman traveling, mending kamu ceritain aja pengalaman hosting di rumah?”.

--

Pengalaman menjadi host selama setahun ini, telah merubah sudut pandang gua dalam menyingkap perbedaan budaya yang sering terjadi. Banyak hal menarik bahkan menjengkelkan terjadi, pada saat gua sedang menghost orang asing di rumah.

Setelah dipikir-pikir, ada baiknya juga kalau ide tersebut dituangkan dalam bentuk presentasi, bukan cuma menjadi guyonan aja kalau lagi ngumpul bareng temen.

Selama beberapa hari ke depan. Gua pun berhasi membuat ke-20 slides yang akan dipresentasikan - dua minggu lebih cepat dari batas deadline pengumpulan file yang telah ditentukan.

- 28 Juli 2011

-- Auditorium CCF

Sebelum memasuki auditorium, para peserta akan diterima oleh penerima tamu, mereka akan mencocokkan nama peserta yang datang dalam data di daftar undangan.

Suasana di meja penerima tamu
Acara tersebut gratis, tetapi karena keterbatasan ruangan lah, yang menyebabkan jumlah peserta akhirnya dibatasi.

Sebagai presenter gua mendapat suatu keuntungan dengan bisa membawa seorang teman masuk tanpa harus mendaftar terlebih dahulu.

Setelah mengisi daftar undangan, para penerima tamu akan memberikan kita beberapa minuman dan majalah secara cuma-cuma : Nu Green Tea, tabloid Wanita Indonesia, dan majalah DiveMag.

Tapi, karena gua cuma datang sendiri, jadi sekalian aja gua minta.

"Mbak, saya kan boleh bawa temen tapi saya dateng sendiri, jadi boleh nggak Nu Green Tea-nya minta satu lagi?"

--

Tak lama, dengan wajah penuh kebahagiaan, gua pun masuk ke dalam auditorium sambil menenteng dua botol Nu Green Tea Original berukuran 330ml. v(^o^)v. Saat itu cuaca di Bandung sedang gerimis dengan angin malam yang cukup menggigil setelah seharian hujan deras - Kondisi tersebut membuat botol minuman yang telah tersimpan lama di luar menjadi terasa lebih dingin, seperti abis diambil dari dalam kulkas.. ~ Andai waktu itu musim kemarau, pasti bahagia diriku..

-- Pukul 19:00



Kondiri ruangan mulai penuh sesak dengan para peserta yang telah mengambil tempat duduknya. Jujur suasana tersebut membuat gua merasa tidak nyamman.

Gua tiba-tiba merasa tegang di detik-detik menuju ke panggung. Untuk mengurangi rasa itu, gua pun tiba-tiba ingat dengan sebuah artikel dari sebuah majalah.

"...Minum air putih dan bernafas secara teratur dapat membantu mengurangi rasa cemas yang berlebih.."

--

Karena nggak ada air putih selain dua botol minuman yang didapat tadi dari penerima tamu. Tanpa befikir panjang, gua pun akhirnya menenguk HABIS seluruh isi botol tersebut sambil berusaha bernafas secara teratur.

--

Tololnya, gua sendiri lupa tanya ke panitia. "Kapan mbak saya presentasinya?".

"Oh, setengah jam lagi".

Sial.. Inilah hal yang gua takutkan..

-- 45 menit kemudian

"Berikut adalah presentasi dari Pandu, dia akan membahas tentang ... bla..bla bla.. silahkan  yang bersangkutan untuk maju ke atas panggung".

Gua yang saat itu sedang berada di bangku peserta pun, akhirnya berdiri menuju panggung..

--

Tampungan air sebanyak 660ml yang sudah gua minum sesaat sebelumnya, ternyata memberikan efek mengerikan 45 menit kemudian..

Rasa canggung yang sempat hilang di awal-awal, ternyata berubah menjadi lebih buruk setelahnya..

--
"Sekarang gua tegang .. juga ingin ke belakang.." 

Dalam kondisi kantong kemih yang sedang penuh saat itu. Gua berusaha untuk tetap fokus sambil berusaha berjalan biasa ke atas panggung. Gua berusaha tidak memperlihatkan kepada orang, apa yang sebenarnya sedang terjadi?.

Saat itulah, sebenarnya dua kaki ini sedang menjepit erat "mr.dung-dung" yang sengaja diselipkan ke dalam selangkangan buat nyumbat air yang udah memenuhin kantong kemih supaya ga tumpah dan "ucrat-acretan" ke mana-mana..

Sesaat pikiran gua sempat menerawang jauh ke suatu tempat .. tempat yang sangat nyaman dan berjarak tidak jauh dari auditorium tempat gua berada..

-- 
Ahhh... Lega....
--

Ketika di panggung, sang presenter menanyakan gua beberapa buah pertanyaan sebagai pembuka presentasi. Saat ditanya, "Apa pengalaman menarik saat menghosting?". Gua menjawab, "Nanti, biar saya jelasin di slide aja".

Gua nggak bermaksud kasar dengan tidak menjawab pertanyaan tersebut, tapi memang kondisi saat itu menyebabkan gua ingin cepat-cepat menyelesaikan presentasi.

Gua nggak bisa berfikir banyak, selain ...

--

Ahh.. Lega..

--

Lampu auditorium dimatikan, projektor mulai dinyalakan, dan slide pun mulai tampak di layar

--

Selama itu pula gua mulai berbicara, berusaha fokus mengucapkan seluruh kalimat dari apa yang telah gua latih sebelumnya. Kalimat demi kalimat gua ucapkan. Berusaha menjelaskan apa yang tergambar dalam slide di dalam layar.

Tiba-tiba gua tersadar..

Gua tersadar akan sesuatu hal yang aneh yang sedang terjadi. "Tapi apa itu?".

1 detik, 2 detik.. 3 detik.. 6 detik.. gua terdiam.. tanpa berkata sepatah apapun.

Tak lama, setelah melihat ke bawah lantai, gua pun tersadar.

ternyata..

-- Bersambung ke bagian II

06 Juli, 2011

Apakah twitter membunuh blog?

Beberapa hari yang lalu gua membaca tweet dari seseorang dalam timeline gua yang berkata, "Twitter membunuh blog". Gua rasa pendapat itu berasal langsung dari kesuksesan yang telah Twitter raih selama beberapa tahun kebelakang ini.

Gimanapun juga gua kurang setuju dengan pendapat tersebut.

Seperti yang orang telah tau, Twitter berbeda dengan Blog. Walaw mereka menyebut dirinya layanan microblogging, tapi semua postingan yang dibuat di sana tidak bertahan lama, hanya selang beberapa hari tweet tersebut akan tenggelam di antara ratusan stream tweet yang terus ter-update setiap harinya.

Menurut gua, banyak pengguna twitter sadar bahwa tweet mereka jarang mendapat perhatian orang, dibanding saat mereka membuat cerita pada blognya.

Kita ambil contoh blog ini. Blog ini sempat terlihat aktif pada tahun 2009-2010, tapi kemudian fakum pada tahun 2011, akibat semakin sibuknya aktifitas gua di luar. Dalam kondisi seperti inilah menulis dalam jumlah karakter singkat pada Twitter terasa lebih nyaman dibanding nge-blog.

Gua berusaha mengaktifkan kembali blog ini. Walaw sempat terbengkalai, banyak dari postingan tersebut masih mendapat perhatian dari puluhan pengunjung setia setiap harinya. Mungkin karena postingan  itu ditempatkan Google atau mesin pencari online lainnya pada halaman pertama?. Gua nggak tau, tapi mungkin aja seperti itu.

Well, paling nggak ada satu hal yang gua tau sekarang. "Blog ini masih mempunyai masa depan".

29 November, 2010

Traveling Macau : Sebuah Kota Dengan Panjang Hanya 2,5x Landasan Udara.

Rangkaian perjalanan ke Cina, merupakan rangkaian tersulit dari perjalanan yang gua lakukan kemarin. Berbagai kendala gua alami, dimulai saat gua membuat itinerary, hingga saat gua berhubungan dengan warga lokalnya.

Banyak sekali "email persetujuan tinggal" (Couchrequest) yang dikirim, tetapi sangat sulit mendapat jawaban "iya" dari mereka (warga lokal). Kebanyakan yang membalas email gua adalah expat-expat yang kebetulan sedang bekerja di sana.

Berbagai alasan penolakan dari warga lokal. Mereka kemukakan pada saat membalas Couchrequest gua :
  • Mereka masih tinggal bersama keluarga.
  • Mereka takut mempersilahkan orang asing tinggal di tempatnya.
  • Mereka cuma menerima tamu, kaukasian !!.
Alasan pertama dan kedua cukup masuk akal bagi gua, tapi "tidak" untuk alasan ketiga!.

"Ironis, ternyata budaya memperbudak diri terhadap ras pantat putih tidak hanya terjadi di Indonesia saja..".

--

Bagi gua, Couchsurfing adalah suatu wadah di mana kita dapat bertukar pendapat serta bersilaturahi antar sesama travelers.

Akan tetapi, "tujuan" tersebut tidaklah selalu sama antara satu anggota dengan anggota lainnya. Motif tak "berprike-tamu-manusiaan" pernah gua alami saat gua menerima balasan Couchrequest dari seseorang di Hongkong :

--------
Balasan Couchrequest 

.. I'm aware that for most of the people staying in Hongkong is really expensive, especially for those who come from poor country like you.


Well, people say that this site is built for culture exchange purpose. But the true reason why people use this site is because they want to get free stay.


That's why i want you to make a list of what you obliged to do while staying at my place


- You must wake up in the morning
- You must wash my clothes and underwear
- You must clean the house
You must make me breakfast, and dinner


As reward you will get free stay at my place in the living room. You aren't allowed to sleep on my couch. You have to bring your own sleeping bag, otherwise you will sleep on the plain floor. I don't provide everything as my place is not a hotel!.

You must bring different types of souvenir also..

--------

9 Oktober 2010 (Kualalumpur - Macau)

Pesawat yang gua tumpangi waktu itu mempunyai konfigurasi bangku penumpang "tiga-tiga". Artinya, di sebelah kiri terdapat tiga deretan bangku, begitu juga di sebelah kanannya.

Bangku yang gua dapat adalah bangku di bagian tengah sebelah kanan pesawat. Penumpang yang duduk di samping kiri dan kanan gua adalah kakek-kakek dan seorang perempuan modis.


--

Setting-an bangku yang sempit. Mempersulit pergerakan gua yang duduk di tengah untuk ke toilet.

Mau ga mau, gua harus meminta izin penumpang di samping buat minggir sebentar supaya gua bisa lewat. Tapi dalam prakteknya, hal tersebut sangat sulit dilakukan..

"SI NGKOH NGGAK MAU MINGGIR!."

Dia ngamuk pake bahasa.Cina!. Kayaknya dia bilang,

"KUALAT KAMU NGELANGKAHIN ORANG TUA!!".

-- 

Menghadapi situasi penerbangan yang membosankan sejak awal. Membuat gua memutuskan untuk tidur sepanjang perjalanan.

Untuk mendapat posisi tidur yang nyaman. Gua menurunkan posisi duduk ke belakang. Ga lama kemudian..

"WOI! DUDUK GUA JADI SEMPIT!!".

Giliran orang di belakang ngamuk pake bahasa.Cina!

AAARRRGGGhhhhhhh!!!

------

Sesudah pesawat mendarat di Bandara Macau. Gua segera menyelesaikan urusan imigrasi secepatnya.

Setelah semua selesai. Hal yang gua lakukan berikutnya adalah mencari Pusat Informasi untuk meminta peta kota dan transportasi.

Pencarian alamat host gua kali ini terbilang sulit. Orang yang akan meng-host gua hanya memberitahu alamat di mana dia tinggal, tanpa memberitahu caranya ke sana.

"My address is on... in District RX".

Dengan perlengkapan berupa peta dan kertas berisi alamat di tangan. Gua pun menaiki bis dan siap tersasar lagi malam itu..

--

Ada dua cara membayar bis di sini : Pertama membayar dengan uang pas, Kedua menggunakan Macau Pass.

Kartu Macau Pass

Macau pass adalah sebuah kartu contactless mirip Flazz BCA yang bisa digunakan : Membayar bis, belanja di Minimarket, dan makan di restoran. Salah satu keuntungan menggunakan kartu ini untuk membayar bis adalah kita langsung mendapat potongan 50% dari ongkos normal ke semua rute bis di Macau.

Mesin reader (hijau), kotak uang (merah)
Tidak ada perbedaan harga untuk rute jauh - dekat. Berapa ongkos yang harus dibayar, tertera jelas saat kita memasuki bus. Kita tinggal memasukkan sejumlah koin ke dalam kotak uang, atau men-tap Macau pass di mesin reader.

Disarankan membayar bis menggunakan uang pas. Kita ga bakal dapat kembalian, semisal bayar lebih!.

--

Sepanjang perjalanan bus dari Bandara di Taipa menuju Macau, gua melihat pemandangan malam kota yang menakjubkan!.

Macau telah menempatkan "dosa" di seluruh aspek ekonominya sejak dulu kala. Diawali dengan kota yang dulu terkenal sebagai kota tempat penyelundupan emas, hingga perdagangan anak, kota ini sekarang telah bertransformasi pesat menjadi pusat perjudian terbesar di dunia.

Berbagai permainan lampu memukau dihasilkan berbagai kasino-kasino yang tersebar di seluruh penjuru kota. Membuat gua tersihir untuk segera masuk ke dalam, lalu mengalokasikan seluruh dana traveling gua untuk berjudi. Sangat jelas terlihat, bahwa kota ini menggantungkan hidupnya dari berbagai bisnis haram yang berdiri di atasnya.


 

Pemandangan malam kota Macau

Gua sempat membaca sebuah berita mencengangkan di sebuah artikel koran Macau saat berada di sana. Pada awal Oktober 2010, kota ini berhasil mencatat pemasukan terbesar sepanjang sejarah kasinonya dengan meraup pemasukan sebesar USD 100juta dalam satu hari!. Berkat kasino itu pula, kota ini menghasilkan pemasukan, USD 31miliar pertahunnya!.

Dengan populasi penduduk sebesar 500.000 jiwa dan perhitungan sederhana. Kita sudah bisa mengira-ngira, "Berapa ya kira-kira pendapatan perkapitanya??".

Tak heran, jika Singapura pun mengendus prospek bisnis menggiurkan ini dengan didirikan sebuah kompleks judi bernama Marina Bay Sands baru-baru ini.

--

Terdapat dua buah bus yang harus gua ambil untuk mencapai distrik yang gua tuju :

"Bis pertama adalah bis dari Bandara menuju Pelabuhan. Sedangkan bis kedua adalah bis dari Pelabuhan menuju Distrik RX".

Merasa sudah sampai di "pelabuhan". Gua pun mempersiapkan diri untuk turun. Untuk memastikannya, gua lalu bertanya kepada salah satu penumpang dalam bis.

"Maaf, apakah ini pelabuhan?". Sesaat setelah bertanya, gua tiba-tiba melihat ekspresi pria itu berubah. Dia seakan berusaha keras mengucapkan sesuatu dari mulutnya.

"Bukan..bukan (No..No)", jawabnya sambil menjauh.

Mendengar jawaban tersebut, gua yang bersiap turun pun kembali duduk, lalu melanjutkan perjalanan sampai tersasar jauh hingga..

PERBATASAN NEGARA?!!

--

Sadar telah tersasar. Gua lalu duduk lemas di sebuah bangku panjang di halte perbatasan negara (border) sembari menunggu bis kembali menuju pelabuhan.

Pada saat itu lah, perasaan khawatir tiba-tiba saja muncul. Border Macau - Guangdong province ditutup pukul 12 malam. Itu artinya, gua cuma punya waktu sejam untuk menunggu bus, sebelum border ditutup dan bis terakhir berhenti beroperasi.

Jika sebelum itu gua belum juga mendapat bis. Itu artinya, gua harus mengantri bersama ratusan orang lainnya menunggu Taxi. Atau bersama puluhan orang lainnya "tidur" menyebar di bangku-bangku taman di sekitar sana.

Gua ga ada uang buat naik taksi, dan gua ga mau ngegembel di bangku taman.

"GUA HARUS DAPET BUS!".

--

Strategi yang gua lakukan untuk mendapat informasi tentang bis, tidak lain adalah bertanya dengan warga sekitar.

Akan tetapi, berkomunikasi malah menjadi cara terburuk untuk mendapatkan informasi. Setiap kali gua bertanya, orang-orang selalu saja menghindar, bisu tidak menjawab.

Miskomunikasi pun kerap kali terjadi, bahkan saat gua menemukan seseorang yang dapat berbahasa inggris.

Pandu : "Maaf apakah ini pelabuhan ferry?".
Nci-nci : "Apa?".
Pandu : "Apakah ini pelabuhan ferry (ferry harbor)?.
Nci-nci : "Oh, ini bukan pelabuhan ferry (ferry harbor), tapi pelabuhan ferry (ferry terminal)". 

Pandu : (dalam hati) "Itu sama aja, Ntong!".

--

Penantian gua berujung bahagia. Tiga puluh menit kemudian, bis menuju pelabuhan pun datang. Gua bergegas masuk, lalu mencari tempat duduk.

Untuk memastikan bahwa bis tersebut benar menuju pelabuhan, gua kembali bertanya kepada seseorang penumpang yang duduk di samping gua.

"Apakah bus ini ke pelabuhan?"

"Ya", ujar penumpang tersebut.

Gua lega luar biasa, saat menemukan seseorang yang bisa berkomunikasi dengan baik dengan gua.

Untuk memecah kebosanan selama perjalanan 20 menit menuju pelabuhan itu, kami pun mengisinya dengan obrolan "ngalor ngidul" seputar curhatan-curhatan ga penting sepanjang perjalanan..

Gua kemudian bercerita tentang bagaimana gua bisa tersasar hingga border. Tak lama, dia pun meresponnya dengan senyuman lebar.

"Jika kamu bertemu seseorang, lalu dia berkata No.. No (Tidak..Tidak)"

"..artinya dia bilang, dia ga bisa bahasa Inggris...".

Mendengar penjelasan tersebut, tiba-tiba gua menjadi , kesal , karena ketidaktahuan gua itu telah membuat gua tersasar jauh dan menghabiskan uang sebesar MOP 4,2 (Rp.5500) secara percuma untuk sebuah bis kembali menuju pelabuhan!.

Dalam kondisi itu, mudah sekali kepala ini memproduksi kata-kata kasar, beserta mulut yang siap memuntahkannya kapan saja.

Video ini cukup menggambarkan kalimat apa yang ingin gua teriakkan waktu itu!.


----


Setelah perjalanan malam yang cukup melelahkan. Paginya, gua bangun segar di atas sofa embuk di dalam rumah host gua.

Sofa tempat gua tidur
Rutinitas gua sehari-hari setelah bangun tidur, bisa digambarkan jelas dalam sebuah lirik lagu anak-anak yang sangat terkenal :

Bangun tidur kuterus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis Mandi kutolong ibu

... ... ... ...

Sebelum berhasil melaksanakan aktifitas di dalam lirik terakhir dari lagu itu. Tiba-tiba "panggilan alam" menuntun gua masuk ke dalam toilet.

--

Di sini lah, hal yang ga gua harapkan terjadi!. Selama beberapa bulan, gua sedang dirudung dilema mengenai tata cara orang-orang "cebok" di berbagai dunia.

Saking bolotnya. Gua bahkan pernah curhat di status Facebook tanggal 3 Mei 2010 tentang masalah beginian.

"Gimana sih cara ngebersihin pantat pake tisu ?".


Note : Gua ga tau seberapa berarakan dan hardcore-nya gua ngebersihin pake tisu waktu itu. Parahnya, ternyata banyak tisu yang robek dan nempel di pantat gua. Karena frustasi, akhirnya gua pun naek ke atas wastafel, buka keran, terus nungging dan deketin pantat gua yang berarakan sama robekan tisu plus kotoran ke dekat kucuran airnya. Bersih sih bersih.. tapi kenapa gua ngerasa idiot bener ya..

--

Setelah menyelesaikan "panggilan alam" itu, gua pun lalu menyelesaikan aktifitas terakhir di lirik dari lagu yang gua nyanyikan tadi.

..Membersihkan tempat tidurku.

--

Gua sempat "jalan-jalan" ke beberapa tempat menarik selama di sini. Gua beri tanda kutip ("...") di kata "jalan-jalan" karena gua benar-benar "jalan" dari satu tempat ke tempat lainnya. Jarang gua menggunakan bis kalau nggak terpaksa.

Macau adalah sebuah kota yang sangat kecil. Dengan luas yang hanya 29 km persegi. Menjadikan panjang wilayahnya kota ini tak kurang dari 2,5x panjang landasan terbang bandara. Bahkan dengan berjalan kaki selama 10 jam saja. Seluruh kota akan berhasil kita jelajahi.


Selama empat hari berada di sana, gua sempat ke beberapa tempat menarik di Macau, berikut mengunjungi beberapa kota menarik lainnya seperti : Hongkong dan Guangdong, Zhuhai. Tapi dari berbagai kota yang gua kunjungi, tidak ada tempat yang benar-benar membuat gua terkesan seperti saat gua memasuki kasino-kasino di Macau.

Pengalaman masuk ke dalam kasino adalah pengalaman luar biasa yang gua alami di sini. Perasaan tersebut mengalahkan perasaan berdebar gua saat mencoba wahana baru Dufan, Histeria baru-baru ini.

Terdapat kesamaan konsep yang gua lihat saat mengunjungi berbagai kasino di sana.

Di dalam kasino kalian tidak akan pernah melihat jam dipajang di mana-mana. Suasana kasino pun dibuat sedemikian rupa agar kita betah berlama-lama di sana : Atap yang dibuat sangat cerah, permainan lampu neon yang menawan, harumnya seluruh ruangan, bahkan berbagai komplementari champagne dan minuman, secara langsung membuat kita tercuci otak untuk tetap berjudi sambil menikmati berbagai kemudahan hidup yang diberikan secara "cuma-cuma".

Gua bisa bilang, berada di sana selama beberapa menit saja, sudah membuat kita seakan terikat dalam sebuah "kontrak" untuk tetap berada di sana selamanya!.

"Mungkin deskripsi gua terlalu berlebihan, tapi akhirnya kalian harus setuju juga, saat kalian mengunjunginya". 

--

Traveling mengajari gua cara bertahan hidup tanpa harus meminta-minta, tetapi dapat makan sepuasnya. (??)

Cara itu gua pelajari saat gua sedang mengunjungi reruntuhan (Ruin) St.Paul suatu hari.

Bagian depan St.Paul

 Bagian belakang St.Paul 

St.Paul adalah sebuah gereja katolik yang dibangun pada tahun 1582 hingga 1602. Gereja ini merupakan gereja katolik terbesar di Asia dulunya. Sekarang yang tersisa hanyalah tembok bagian depan dari gereja tersebut setelah terbakar hebat pada tahun 1830.

--

Di depan St.Paul banyak terdapat banyak toko yang menjual : Pakaian, makanan, hingga aksesoris. Melihat kondisi itu, tiba-tiba gua punya ide untuk mengisi perut yang sedang kosong saat itu.

Misalkan lo ga punya duit dan laper. Lo bisa pake cara gua buat dapetin makanan gratis di sana. Tapi satu hal : Ga boleh malu!.

--

Di luar toko makanan. Terdapat pegawai yang menawarkan berbagai jenis taster kepada orang-orang. Mereka memberikan taster tersebut, untuk dicicipi dalam jumlah banyak.

Di situlah, gua mendapat ide mencicipi berbagai makanan gratis sampe eneg. Gua mendatangi setiap toko makanan dengan dalih ingin membeli. Lalu mencoba berbagai sample yang ditawarkan, sambil memberi komentar "pedas" setelahnya.

"Aduh, dagingnya alot banget!". "Kuenya pahit!". "Kacangnya asin!".

Alasan-alasan negatif tersebut gua lontarkan agar gua bisa terlepas dari jeratan para pedagang, serta memperlancar perpindahan gua dari satu toko ke toko lainnya, demi mencoba beragam jenis taster sepuasnya.


-------

Sebenarnya gua lebih banyak berada di rumah host gua, membantu dia membersihkan rumah atau mencuci piring, dibandingkan jalan-jalan.

"Tragis, hidup gua macam TKI di sana!".

Mungkin ini adalah"karma" akibat memperbudak dua orang asing di rumah untuk mengepel lantai dan mencuci baju, beberapa hari sebelum keberangkatan.


Tapi semua itu gua lakuin atas dasar terima kasih, walaw dalam bentuk keringat yang keluar dari hasil gua menggosok-gosok lantai.

Pengalaman meng-hosting. Mengajarkan gua bahwa cendramata adalah barang yang diharapkan setiap host. Oleh karena itu sebelum pamit, gua memberikan sebuah gantungan kunci berbentuk angklung yang gua beli beberapa hari sebelumnya di Bandung kepada dia.

Setelah berpetualang selama beberapa hari di sana. Akhirnya gua pun harus menerima kenyataan, bahwa gua harus menempuh perjalanan udara yang panjang dan membosankan menuju suatu negara bernama Thailand.

---

Lamanya perjalanan dari Macau - Thailand ditempuh dalam waktu 14 jam dengan transit 12 jam di Kualalumpur.

Setelah mengurus imigrasi di Bandara Macau. Gua kemudian bersantai menunggu penerbangan yang tinggal sebentar lagi sambil menikmati segelas popmie "super jumbo" yang ukuran gelasnya bahkan hampir menyerupai ukuran ember buat nyuci di rumah.

Popmie jumbo!